Sunday, 11 December 2016

kegalauan Eksistensi Mahasiswa Dalam Pusaran Hedonisme

SEKILAS SEJARAH HEDONISME 
Istilah Hedonisme berasal dari Bahasa Yunani yaitu “hedonismos”, terdiri dari akar kata hedone, artinya "kesenangan". Sedangkan Isme adalah paham atau ajaran. Maka dapat disimpulkan Hedonisme adalah ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup bagi manusia. Aliran Hedonis mengajarkan orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.
Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat "apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?" Lalu Aristippus dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan. Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi. 
 Adapun Tokoh-Tokoh Hedonisme antara lain, yaitu : Aristippus dari Kyrene Afrika merupakan seorang filsuf Yunani. Menurutnya, akal (rasio) manusia harus memaksimalkan kesenangan/hedon dan meminimalkan kesusahan. Hidup yang baik berkaitan dengan kerangka rasional tentang kenikmatan. Meskipun kesenangan dijunjung tinggi oleh Aristippus, ada batasan kesenangan itu sendiri. Batasan itu berupa pengendalian diri. Meskipun demikian, pengendalian diri ini bukan berarti meninggalkan kesenangan. Misalnya, orang yang sungguh-sungguh mau mencapai nikmat sebanyak mungkin dari kegiatan makan dan minum bukan dengan cara makan sebanyak-banyaknya atau rakus, tetapi harus dikendalikan/dikontrol agar mencapai kenikmatan yang sebenarnya.   
Epikuros dari Yunani, Samos. Ajaran Epikuros menitikberatkan persoalan kenikmatan. Apa yang baik adalah segala sesuatu yang mendatangkan kenikmatan yang dipahami secara mendalam, dan apa yang buruk adalah segala sesuatu yang menghasilkan kesengsaraan. Cara untuk mencapai kepuasan atau kenikmatan dengan menjadi Orang bijaksana yang dapat membatasi kebutuhan agar dengan cara membatasi diri akan banyaknya kebutuhan,maka ia akan mencapai kepuasan dan kenikmatan yang mendalam. Dan agar kenikmatan itu mencapai jangka panjang maka kita harus dapat mempertimbangkan segi-segi positif dan negatif .
Gaya Kehidupan Mahasiswa Dalam Budaya Hedonis.
Salah satu ciri yang paling menonjol dari masyarakat modern adalah semakin mendominasinya kebebasan akal dalam menentukan sesuatu, dan semakin maraknya penggunaan teknologi dalam bidang informasi dan komunikasi. Kedua faktor tersebut secara tidak langsung berimbas pada gaya hidup dan logika berpikir manusia yang terlibat di dalamnya. Salah satunya yaitu mahasiswa. Seiring masuknya budaya-budaya luar yang tak terkendali dari berbagai sisi status kehidupan sosial di negeri ini, terutama di kehidupan mahasiswa sebagai tonggak agent of change, agent of control,dan agent of analisis. Di mana idealisme mahasiswa juga ikut terinfeksi penyakit dan kebejatan modernisasi. 
Mahasiswa tak bisa melawannya melihat realitas yang sekarang, mayoritas tonggak perubahan bangsa ini, jauh dari hakikatnya sebagai insan perubahan sehingga adanya keresahan yang muncul dalam hati ini, melihat suasana yang terjadi dikampus, dimana kampus yang seharusnya menjadi “istana” bagi mahasiswa yang “haus akan ilmu pengetahuan”, namun kini kampus yang kita banggakan ini seolah-olah telah beralih fungsi menjadi tempat “fashion” bagi kawan-kawan mahasiswa yang terobsesi menjadi seorang artis.
 Kampus merupakan tempat bagi mahasiswa yang ingin berhura-hura yang selalu apatis dengan dunia ilmiah, kampus hanya dijadikan sebagai tempat untuk mengisi waktu yang kosong saat tidak ada kegiatan di rumah. Sehingga mahasiswa hanya datang ke kampus, duduk dan diam mendengarkan penjelasan dari dosen kemudian pulang ke kamar tanpa memperoleh ilmu pengetahuan. Kelompok-kelompok diskusi ilmiah kini jarang kita jumpai, bahkan untuk mengingat dan melestarikannya kembali, sama sekali tidak terbesik lagi dalam benak Mahasiswa. Kini Mahasiswa hanya mengedepankan sifat hidup hedonis, mereka beranggapan bahwa kehidupan yang mereka jalani sekarang ini merupakan kehidupan yang sebenarnya, dan tidak bisa dipungkiri pula bahwa kebutuhan primer mahasiswa sekarang tidak lain adalah pakaian-pakaian fashion, alat-alat komestik, alat-alat elektronik yang kesemuanya itu diproduksi oleh orang-orang kapitalis, paradigma sekarang berbalik arah dengan paradigma yang dulu, contohnya sederhanya ketika ada mahasiswa yang hanya rajin membaca buku tapi kurang tahu terhadap gaya “trend” kekinian maka mahasiwa tersebut mau tidak mau harus menerima vonis atau klaim sosial sebagai mahasiswa yang ketinggalan zaman.
Dari gambaran di atas, dapat dimengerti bahwa eksistensi mahasiwa mengalami pergeseran nilai. Sejatinya mahasiswa sebagai agen pencerah bagi lingkungan sosialnya namun kini mahasiswa beralih fungsi menjadi mahasiswa yang hanya mengedepankan senang-senang saja dan terjebak dalam pusaran arus kesenangan sesaat. Belum lagi dari tindakan-tindakan mahasiswa yang sifatnya anarkis dalam menghadapi premasalahnya, mereka lebih mengutamakan ego ketimbang idealisnya sehingga banyak bentrokan-bentrokan yang terjadi dikalangan mahasiswa dengan beradu jotos. 
Mereka senang dengan kemenangan yang dihasilkan dari sifat anarkisnya yang sifatnya hanya sementara, kesenangan-kesenangan mahasiswa yang diyakini sebagai surga kehidupan mereka tidak lain hanyalah sebagai dunia fatamorgana belaka, mereka sudah ternina bobokan oleh gejala yang tak berguna bagi kehidupan kedepannya. Fenomena ini tidak luput dari pengaruh kapitalis juga, dengan memanfaatkan modal yang mereka punya, mereka berusaha meraup keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperdulikan moral-moral yang terkikis akibat perbuatan mereka. 
Berikut beberapa data dari berbagai survey terkait kehidupan mahasiswa dan yang mempengaruhinya :
Sebuah data rilisan hasil survei Bank Indonesia dan UPN Yogyakarta pada tahun 2008 cukup mengejutkan. Diasumsikan bahwa potensi pengeluaran mahasiswa Yogyakarta dalam satu bulan mendekati RP. 383,5 Milyar rupiah. Dan yang lebih mengejutkan diketahui porsi pembelanjaan uang tersebut lebih banyak dihabiskan untuk sektor hiburan dan makan-minum, bukan untuk pembelian buku pelajaran atau keperluan kuliah. Mahasiswa yang sudah luntur pola pikir kritisnya ini makin nestapa dibombardir janji manis konsumerisme. Mahasiswa adalah agen pemasaran terhebat. Sebab ketika satu mahasiswa mengkonsumsi produk tertentu, mahasiswa lainnya akan mengikuti atas nama trend dan gengsi.
 Mahasiswa adalah target pasar paling signifikan dan menjanjikan. Jadi jangan heran bila disekeliling perguruan tinggi lebih menjamur sektor komersial seperti toko belanja, rumah makan, atau mall ketimbang toko buku. Apabila yang menguasai sektor komersial seputar komunitas mahasiswa ini para pengusaha dan pedagang kecil mungkin tidak jadi masalah, karena mikro ekonomi berarti kehidupan rakyat kecil. Namun perkaranya adalah penguasa sektor komersial, para lintah yang menghisap darah mahasiswa ini adalah usaha-usaha besar, franchise yang dikuasai pemodal kuat yang entah Dia berada dimana. Tentu semua laba kawasan komersial ini terpusat hanya pada pemodal itu. Sementara beberapa warga lokal sekitar komunitas mahasiswa yang bermodal kecil berusaha mengais remah laba dengan berjualan seadanya.
 Dengan mendorong gerobak misalnya. Itupun kalau tidak terbentur kebijakan universitas yang melarang pedagang kaki lima berkeliaran dilingkungan kampus yang katanya “takut mengganggu proses belajar.” Jadi, mahasiswa sedang sibuk menikmati hari dalam gelimang konsumerisme. Mana sempat belajar kritis kala mahasiswa sedang bersenang di kedai kopi sambil update status galau melalui akses Wi-Fi gratis. Manalah mahasiswa peduli akan tanggung jawabnya sebagai calon cendekiawan ketika Dia sibuk makan di lesehan dan main futsal. Apakah Kita masih bisa berharap mahasiswa memperoleh lagi kekritisannya ditengah euforia massa konsumerisme ini.
Gaya pakaian terutama budaya memakai sandal kita jumpai di kampus UNAIR terutama Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik.
Skema Bagan 


Jadi dapat di simpulkan kekuatan media masa sebagai alat kapitalis juga mendorong dunia hedonis terutama di kalangan mahasiswa.
Data Tentang Penggunaan Narkoba
Hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan, prevalensi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pelajar mencapai 4,7 persen dari jumlah pelajar dan mahasiswa atau sekitar 921.695 orang.
"Dari jumlah tersebut, 61 persen di antaranya menggunakan narkoba jenis analgesik dan 39 persen jenis ganja, amphetamine, ekstasi dan lem," ujar Kabid Pembinaan dan Pencegahan Badan Narkotika Propinsi Sumatera Utara, Arifin Sianipar, di Medan, Minggu (13/2) kemarin.
Jumlah pecandu narkoba di Indonesia yang mendapatkan terapi dan rehabilitasi di seluruh Indonesia, berdasarkan data Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) tahun 2010 sebanyak 17.734 orang.
Jenis narkoba yang paling banyak digunakan oleh pecandu yang mendapatkan terapi dan rehabilitasi adalah jenis heroin sebanyak 10.768 orang, ganja 1.774 orang dan sabu-sabu sebanyak 984 orang. selebihnya umumnya menggunakan alkohol, MDMA, amphetamine lain serta benzodiazepine.
Jumlah tersebut cukup mengkhawatirkan. Karena penyalahgunaan narkoba memberikan pengaruh besar kepada masyarakat, baik dari segi kesehatan maupun perekonomian.
Ditinjau dari segi kesehatan, lanjutnya lagi, penggunaan narkoba akan menyebabkan menurunnya stamina tubuh dan merusak organ-organ vital seperti saraf dan jantung.
Sedangkan dari segi perekonomian, katanya, penyalahgunaan narkoba akan menyebabkan penggunanya harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli barang terlarang tersebut.
"Memang, narkoba masih menjadi masalah bagi bangsa ini, karena pengguna barang haram tersebut bukan hanya di tingkat orang dewasa, namun telah merasuk ke generasi muda. Ini jelas akan merusak generasi muda selaku penerus bangsa," ujar Arifin.
Belum lagi  pengaruh budaya-budaya hedonis yang ditampilkan oleh media televisi seperti halnya tontonan sentron  percintaan yang  didalamnya terdapat adegan-adegan yang memperlihatkan kemudahan seseorang untuk membelanjakan uangnya dengan barang-barang yang mewah seperti contoh membeli mobil, berbelanja di tempat yang bagus, dan liburan ke tempat-tempat wisata, adegan-adegan yang ditayangkan senetron tadi merupakan cirikhas dari gambaran budaya-budaya hedonis.
C. Membentuk Logika Berpikir Kritis Spritualis Mahasiswa Dalam Menghadapi Budaya Hedonis. 
Dalam kenyataan hidup manusia, pola pikir dan gaya hidupnya tidak terlepas dari fakta sosial yang mengitarinya. Artinya, Logika berpikir dan gaya hidup seseorang tidak lahir dari ruang yang hampa, melainkan ada faktor pengaruh yang melatar belakanginya. Salah satunya yaitu pengaruh budaya hedonis. Pada kenyataan sosial, budaya hedonis mempunyai pengaruh, baik dari segi pakaian, tingkah laku, dan gaya hidup kita dalam keseharian. 
Akan tetapi, pengaruh budaya hedonis terhadap tingkah laku, pakaian, dan gaya hidup kita tidak begitu baik bagi kehidupan manusia terutama dikalangan remaja,lama kelamaan para remaja khususnya pelajar atau mahasiswa mulai terhipnotis oleh budaya-budaya hedonis, yang seakan akan bangsa kita ini kehilangan identitasnya. 
Namun apakah kita membiarkan generasi bangsa kita ini rusak disebakan budaya-budaya hedonis yang memasuki kehidupan kita? Tentunya tidak, sebagai makhluk sosial yang prinsipnya itu saling tolong menolong, setidaknya ada tawaran solusi yang bisa berguna untuk penanggulangan masalah-masalah yang terjadi saat ini.
Adapun tawaran yang di berikan adalah dengan cara membentuk logika berpikir kritis dan spritualis,yang mana cara ini merupakan kegiatan untuk mengantisipasi serangan dari budaya-budaya hedonis, namun sebelum kita berbicara lebih jauh tentang bagaimana cara membentuk logika berfikir krtis dan spiritualis, terlebih dahulu kita mengetahui apa defenisi dari kedua garis besar yaitu berpikir kritis dan spritualais.
Defenisi berfikir kritis adalah tidak ada pemisahan antara diri dan tindakan, tetapi senantiasa bergumul dengan masalah-masalah duniawi tanpa gentar menghadapi resiko.
Sedangkan defenisi dari spritualis sendiri yaitu pekerjaaan atau perilaku yang berhubungan dengan batiniyah seperti mendekatkan diri kepada tuhan. Kalau kita ambil dari kedua defenisi tadi maka memunculkan kesimpulan yaitu bagaimana pelajar atau mahasiwa mempunyai kepekaan atau tidak mudah ikut arus terhadap gejala-gejala yang dihadapinya yang diperkuat dengan adanya kegiatan batinyah yang membentenginya
Adapun cara pengaplikasian dari solusi diatas bisa dengan cara menghadapkan langsung mahasiswa kepada masalah yang terjadi di masyarakat, disini mahasiswa diharapkan mampu menangkap realitas sosiologis dan psikologis masalah yang terjadi di lingkungan masyarakat tersebut. Maka seketika itu peran nalar kritisnya mulai terbangun akibat peka terhadap dunia realitas, Mahasiswa tidak lagi hanya bisa mengkritik saja akan tetapi mahasiswa dilatih untuk berpikir kritis dan mencari solusinya.
Bukan hanya itu, dalam upaya pengamesiaan mahasiswa dari pengaruh hedonis bisa menggunakan cara dengan membebaskan diri dari taklid terhadap pemikiran orang lain, lalu mencela bahwa pernyataan yang dihasilkan oleh pemikiran orang lain itu tidak bisa dibuktikan melalui dugaan-dugaan yang benar.
Bisa juga dengan menggunakan penanaman nilai-nilai religius pada jati diri mahasiswa, dalam tanda kutip religius disini bukan diidentik dengan a rti agama, melainkan dilihat dari aspek di dalam lubuk hati nurani pribadi seseorang, kalau menurut Gay Hendricks dan Kate Ludeman sikap-sikap kereligiusan itu bisa tampak pada diri seseorang dalam menjalankan tugasnya diantaranya: jujur, adil, bermanfaat bagi orang lain, rendah hati,kerja evesien, disiplin tinggi. 
Dari tawaran diatas, merupakan upaya-upaya yang harus kita lakukan agar supaya bagaimana pelajar atau mahasiswa mampu membendung serangan dari budaya-budaya hedonis  yang berdampak fatal  bagi generasi bangsa kita. 
(Tulisan ini adalah karya ilmiah pertama penulis,dan ninobatkan sebagai Juara 1 LKTI pada acara Gebyar Fak. Syariah IAIN Jember).


No comments:

Post a Comment