Tak harus bergerilya di hutan-hutan dan tak harus menjinjing senapan atau sejenis bambu runcing seperti layaknya Jendral Sudirman. Karena saat ini negeri tercinta Indonesia seratus persen merdeka tepatnya 71 tahun lalu. Tentu kita tau siapa yang memperjuangkan kemerdekaan itu, ya mereka-merekalah para leluhur yang agung yang kini hidup di negeri Firdaus. Sedangkan Kita adalah generasi dari generasi yang terlahirkan sebagai anak-anak Indonesia dimasa era kegemilangan. Era dimana petani, tukang becak, sopir, siswa, mahasiswa, tak perlu lagi berada dibarisan Tanam Paksa atau kerja Rodi Tuan Daendles. Sebagian dari kita semua menafsirkan “Bayi yang terlahir Tinggal Menikamati” hasil Kemerdekaan.
Kalian tau siapa bayi yang saya maksud, ya.. tentu saya sendiri dan kalian adalah bayi-bayi itu yang kini telah tumbuh . Namun pernah kah kalian berfikir sejenak ?? Logika yang mana yang mengatakan rakyat yang tidak terdidik di akademi militer, senjata yang hanya didapat di alam rimba, mampu mengalahkan Tentara Eropa yang telah lebih dahulu terdidik dan memiliki senjata 360 derajad lebih cepat sampai dijantung dari pada ujung bambu runjing. Logika yang mana yang membenarkan itu. Rumus fisika apa yang dapat menjawab itu semua ?.
Jawaban yang sederhana mungkin Penulis bisa jawab dengan kata-kata singkat dari Bung Tomo “ Saudara-saudara Lebih baik kita mati dari pada anak-anak kita nanti merasakan penjajahan ini”. Kata-kata Bung Tomo tersebut menyulut sumbu rakyat, membangkitkan kesadaran rakyat bahwa melawan penjajah bukan semata-mata hanya untuk kemenangan namun untuk generasi-generasi yang akan datang. walaupun secara akal senjata tak kan bisa dikalahkan hanya dengan pucuk bambu runcing dan keberanian. Namun menyelamatkan generasi yang akan datang itu lebih penting.
Tepat tanggal 10 November pasca Indonesia merdeka. di Surabaya, Tentara sekutu Inggris dan Belanda melalui darat, laut bahkan Udara menghancurkan habis-habisan rakyat. Mereka datang seperti capung-capung yang mengudara, seperti hiu-hiu pemangsa, dan seperti rayap-rayap. Akan tetapi tentara sekutu tidak dapat membuat rakyat Mundur bahkan arek-arek surabaya dapat membunuh Jendral sekutu W.S Malabby.
Saya tegaskan kembali kepada saudara-saudara bahwa era saat ini kita tinggal “menikmati” hasil dari pada perlawanan panjang para pejuang. Menikmati dalam pengertian mengisi kemerdekan yang bulat dengan memberikan karya yang nyata untuk Indonesia.
Enak bukan !!... Hanya tinggal menikati, hanya sebagai penonton sejarah perlawanan dari teks-teks buku-buku sejarah Tanpa tau bagaimana perihnya di tembak, dirampok bahkan di perkosa secara lahir dan batin.
Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan. Sebagai seorang Petani mari berkarya dengan menumbuhkan tanaman yang mampu mencukupi perut masyarakat desa dan kota. Sebagai seorang Pinggiran laut mari kita manfaatkan hamparan laut Indonesia untuk memproduksi garam sendiri, Ikan, Intan, bahkan Pariwisata. Sebagai seorang pengusaha mari sebanyak mungkin melahirkan produk-produk Made In Indonesia. Dan sebagai seorang Pelajar mari kita cetuskan pemikiran-pemikiran inovatif guna menuju masyarakat yang cerdas.
Pare, 10 Desember 2016.
No comments:
Post a Comment