“Menjawab Degradasi Pendidikan Kita Melalui Paradigma Konflik”
Konsep Masyarakat
Dictionary of Sosiology mendefinisikan bahwa Masyarakat sebagai: Suatu kelompok manusia yang mendiami suatu wilayah tertentu dengan segala ikatan dan norma di dalamnya. Order C. Smucker mencoba mendekati pendidikan dengan perspektif masyarakat. Ia mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kumpulan populasi, tinggal pada suatu wilayah yang berdekatan, terintegrasi melalui pengalaman umum, memiliki sejumlah institusi pelayanan dasar, menyadari akan kesatuan lokalnya, dan mampu bertindak dalam kapasitasnya sebagai suatu korporasi. Ada beberapa perspektif lain yang mencoba memahami masyarakat sebagai sebuah konsep. Pertama, perspektif “kepentingan” yang memahami bahwa masyarakat sebagai kelompok induvidu yang di ikat oleh satu atau beberapa satuan kepentingan dari banyak orang, seperti kesenangan, kepentingan kewarganegaraan dan politk, atau kepercayaan relegius dan spiritual. Kedua, perspektif “fungsi” kelompok yang dikenali berdasarkan fungsi peran dalam kehidupan, seperti dokter, professor, pekerja sosial dan sebagainya. Ketiga, perspektif “demografis”, yaitu memandang masyarakat sebagai kelompok yang diikat oleh larakteristik demogarfis umum seperti ras, suku, bangsa, dan umur. Keempat, perspektif psikografik, yaitu melihat masyarakat Sebagai suatu kelompok yang di bentuk berdasarkan komponen-komponen sistem nilai, kelas sosial, dan gaya hidup. Keempat perspektif inilah dapat disebut dengan masyarakat. Konseptualisasi community seperti inilah yang dijadikan pegangan dalam memaknai kata ’masyarakat” yang terkandung dalam paradigma konflik.
Konsep Paradigma Konflik (Pendidikan Berbasis Masyarakat)
Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan dari demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengatasi tantangan kehidupan yang berubah-ubah dan semakin berat.
Secara konseptual, Pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “ dari masyarakat,oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidikan memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. Pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat di tempatkan sebagai subjek, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini masyarakat di tuntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang di rancanakan untuk kebutuhan mereka. Pendidikan berbasis masyarakat bekerja atas asumsi bahwa setiap masyarakat secara fitrah telah di bekali potensi untuk mengatasi masalahnya sendiri. Baik masyarakat kota ataupun desa telah memiliki potensi untuk mengatasi masalah mereka sendiri berdasarkan sumber daya yang mereka miliki serta memobilisasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang di hadapi.
Tujuan dari Pendidikan berbasis masyarakat biasanya mengarah pada isu-isu masyarakat yang khusus seperti pelatihan karir, konsumerisme, perhatian terhadap lingkungan, pendidikan dasar, budaya dan sejarah etnis, kebijakan pemerintah, pendidikan politik dan kewarganegaraan, pendidikan keagamaan, penangan masalah kesehatan seperti korban narkotika, HIV Dan sejenisnya.
Pendidikan dianggap berbasis masyarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga pelaksanaan berada di tangan masyarakat. Jika masyarakat memiliki otoritas dalam mengambil keputusan dan menentukan tujuan pendidikan, sasaran, pembiayaan, kurikulum, standars dan ujian, kualifikasi guru, persyaratan siswa,tempat penyelenggaraan dan lain-lain berarti pendidikan tersebut berbasis pendidikan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat di dalam sisdiknas menunjuk pada pengertian yang konservatif, antara lain mencangkup: (a) pendidikan luar sekolah yang diberikan oleh organisasi akar rumput seperti pesantren dan LSM, (b) pendidikan yang diberikan oleh sekolah swasta atau yayasan, (c) pendidikan dan pelatihan yang diberikan oleh pusat pelatihan milik swasta (d) pendidikan luar sekolah yang di sediakan oleh pemerintah (e) pusat kegiatan belajar masyarakat,(f) pengambilan keputusan yang berbasis masyarakat. Secara esensial, Pendidikan berbasis masyarakat adalah munculnya kesadaran tentang bagaimana hu bungan-hubungan sosial bisa membantu pengembangan interaksi social yang membangkitkan concern terhadap pembelajaran, social, ekonomi, politik, lingkungan, ekonomi dan faktor-faktor lain. Sementara Pendidikan berbasis masyarakat sebagai program harus berlandaskan pada keyakinan dasar bahwa partisipasi aktif dari warga masyarakat adalah hal yang pokok. Dalam perkembangannya pendidikan berbasis masyarakat kini merupakan sebuah gerakan nasional di Negara berkembang seperti Indonesia. Pendidikan berbasis masyarakat diharapkan menjadi salah satu fondasi dalam mewujudkan masyar akat madani. Untuk melaksanakan paradigma Pendidikan berbasis masyarakat setidak-tidaknya mempersyaratkan lima hal. Pertama, teknologi yang di gunakan hendaknya sesuai dengan kondisi dan situasi nyata yang ada di masyarakat. Kedua,ada lembaga yang statusnya jelas dimiliki atau di pinjam, dikelola dan di kembangkan oleh masyarakat. Ketiga, program belajar yang akan di lakukan harus bernilai sosial atau bermakna bagi kehidupan warga belajar. Keempat, program belajar harus menjadi milik masyarakat, bukan milik instansi pemerintah. Kelima,aparat pendidikan luar sekolah tidak menangani sendiri programnya, namun bermitra dengan organisasi kemasyarakatan.
Tiga Perspektif Pendidikan Berbasis Masyarakat (Paradigma Konflik)
Masyarakat masa kini memerlukan pandangan ideal untuk mencapai dan memelihara hubungan berbasis masyarakat. Nilai-nilai sederhana seperti peduli akan kualitas hidup dan cinta tanpa syarat menyangkut ras manusia harus diwujudkan. Untuk itu masyarakat harus juga aktif berpartisipasi dalam kemajuan pendidikan seperti masyarakat bisa merangkul sekolah yang ada di lingkungannya, di mana para siswa belajar dan tumbuh untuk menjadi warga Negara produktif. Dalam konteks ini pendidikan berbasis masyarakat menurut Cristine J. Villani Dan Douglas Atkins merupakan konsep yang membantu menciptakan hubungan saling ketergantungan antara praktik pendidikan dan masyarakat, yang mempunyai potensi untuk mempengaruhi orang-orang paa skala global.
Pendidikan berbasis masyarakat senantiasa memusatkan diri pada kemampuan siswa untuk mengenali dan mendukung kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Dengan cara ini para siswa bertanggung jawab bagi upaya penyediaan nilai-nilai yang berasal dari kebebasan mereka untuk berekspresi, berkembang, dan memcahkan masalah yang inheren atau memiki concern terhadap masyarakatnya. Para siswa dan guru adalah bahan bakar yang dapat menciptakan pendidikan berbasis masyarakat. Dalam tinjauan literatur, ada tiga perspektif yang mencoba mencari landasan konseptual bagi pendidika berbasis masyarakat, yaitu:
Pendidikan Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Historis
Winarno surakhman yang menyatakan bahwa pendidikan berbasis masyarakat merupakan perkembangan lebih lanjut dari pendidikan berbasis sekolah. Dalam pandangannya, “ konsep pengelolaan pendidikan berbasis sekolah (PBS) adalah konsep yang sangat mungkin perlu kita dahulukan sebagai titik tumbuh konsep pendidikan berbasis masyarakat. Diakui Nourouzzaman Shidiqi, analisis hidtoris selalu menelurkan tiga unsur pokok yaitu proses asal usul, perubahan dan perkembangan. Unsur yang di tekankan Surakhman dalam analisinya tentang pendidikan berbasis masyarakat ini adalah masalah perkembangannya, yaitu sebuah perkembangan yang muncul kemudian setelah lahirnya pendidikan berbasis sekolah.
Menurut pandangan Cunningman yang menjadi komitrmen pendidikan berbasis masyarakat adalah untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarkat. Dia juga menggambarkan perbedaan antara pendidikan masyarakat (paradigama fungsionalisme) dengan pendidikan berbasis masyarakat (paradigama konflik). Sebagai berikut:
No.
Paradigma Fungsionalisme
Paradigma Konflik
Karakteristik
Konsensus-Integrasi
Konflik-Transformasi
2. Pengertian Masyarakat
Masyarakat Secara Geografis
Masyarakat Secara Geografis dan Komunitas
3.Format Pendidikan
Fokus pada lembaga Formal
Fokus Pada lembaga Nonformal
4. Program Pendidikan
Pendidikan Masyarakat, pembangunan Masyarakat,
Dan Community College
Pendidikan Berbasis Masyarkat, Pendidikan Popular, dan social Movement-Learning
5. Produk Pengetahuan
Positivistik Logis
Partisipatori-Transformasi
6. Kultur
High Culture, seperti museum dan perpustakaan
Popular Culture,seperti Teater dan Seni Popular
7. Akar Historis
Henry Morris, Frank Maniey
Father Coady, Paul Feire,Rajesh Tandon, Myles Horton dan Julius nyerere
Tabel di atas secara sepintas menjelaskan bahwa paradigama fungsionalis senantiasa melaksanakan program pendidikannya dengan apa yang di sebut pendidikan masyarakat yang ujungnya program pendidikan semacam ini sebenarnya bertujuan untuk mempertahankan status qua. Berbeda dengan paradigama konflik telah menekankan program pendidikannya pada apa yang disebut Pendidikan Berbasis Masyarkat . Paradigma konflik menurut Nashikun mengindisikan bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya unsur-unsur yang bertentangan di dalam masyarakat secara terus-menerus, karena perbedaan otoritas. Ada kelompok yang mempertahankan status qua, dan kelompok yang lain berupaya menghendaki perubahan dan perombakan.
Pendidikan Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Pendidikan Kritis
Menurut Mansour Fakih dan Toto Raharjho, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap the dominant ideology kearah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang untuk bersikap kritis terhadap system dan struktur ketidakadilan, serta melakukan dekontruksi dan advokasi menuju system social yang adil. Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk menciptakan sistem sosial baru yang adil. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasikan dan menganalisis secara bebas dan kritis dalam rangka transformasi social. Dengan kata lain tugas dari pendidikan sendiri adalah memanusiakan manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang todak adil. Dari beberapa hal di atas dapat dikatakan bahwa pendidikan berbasis masyarakat menurut perspektif pendidikan kritis adalah pendidikan yang keputusan-keputusannya dibuat oleh masyarakat.
Pendidikan Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Politik
Nielsen menekankan bahwa pendidikan berbasis masyarakat merupakan hal yang berlawanan dengan pendidikan berbasis Negara. Dalam konteks Indonesia menurut Nielsen menunjuk pada tujuh pengertian, yaitu: (a) peran serta masyarakat dalam pendidikan (b) pengambilan kepuutusan berbasis sekolah (c) pendidikan yang di berikan oleh sekolah swasta atau yayasan, (c) pendidikan yang di berikan oleh yayasan atau swasta, (d) pendidikan dan pelatiahn yang di berikan oleh pusat pelatihan milik swasta, (e) pendidikan luar sekolah yang di sediakan oleh pemerintah, (f) pusat kegiatan belajar masyarakat, (g) pendidikan luar sekolah yang di berikan oleh orghanisasi akar rumput.
Konsep pendidikan berbasis masyarakat yang di lihat secara politis juga di dukung oleh Sharon murpy yang mencoba memberinya landasan-landasan kritis. Menurutnya pendidikan berbasis masyarakat senantiasa didasarkan pada teori.
Masyarakat sebagai sumber dan sasaran pendidikan nonformal
Pemahaman mendasar tentang peranan masyarakat sebagai sumber belajar dan perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dapat di jadikan dasar dalam pengembangan dan pembangunan pendidikan formal, khususnya dalam pengembangan kurikulum dan implementasi program. Kondisi ini dapat di telaah dari sejauh mana kurikulum dan program pendidikan nonformal atau materi yang di kembangkan dapat menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarkatserta bagaimana tingkat partisipasi dalam pengmbangan program-kurikulum yang di kembangakan progarm pendidikan nonformal. Model pembangunan masyarkat nelayan sanagt berbeda dengan masyaratkat pertanian , masyarkat pegunungan, dan masyarakat kota. dengan demikain terpadunya kurikulum yang di kembangkan dengan kondisi social budaya,alam lingkungan masyarakat adalah satu sisi fondasi yang harus menjadi alas an keberhasilan pengembangan program pendidikan nonformal dalam membangun kompetensi warga belajarnya.
Konsep pendidikan nonformal yang merupakan bentuk dari pendidikan pengbdian masyarkat juga bertugas untuk pembangunan masyuarakat dapat di lihat dari dua sisi peran, Pertama masyarakat sebagai sumberdaya pembelajaran. Kedua masyarkat sebagai sasaran pembelajaran. Kedua kerangka tersebut sangatlah penting karena mengingat implementasi pendidikan nonformal dalam kerangka masyarkat belajar melekat pada keduanya. Sebagai sumberdaya pembelajaran masyarakat dapat di lihat dari daya dukung terhadap implementasi dan pengelolaan, program, serta pengembangan program di masa depan. Sedangkan peran masyarakat sebagai sasaran, dapat di lihat dari tingkat partisipasi masyarkat dalam berbagai program yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan, keterampila, dan kualitas dirinya.
Mengingat sasaran tersebut, maka program/kegiatan pendidikan nonformal terus di perluas sesuai dengan kebutuhan dan kondisi perkembangan masyarkat. Konsep belajar yang terkesan hanya berlangsung di dalam ruangan sekolah kurang tepat lagi di terapkan belajar harus di pandang sebagai penemuan dan pemecahan masalah dalam hidup dan kehidupan, kita harus belajar dari apa yang kita kerjakan, kita harus memanfaatkan setiap pengalaman sebagai sebuah proses belajar. Berbagai lembaga yang ada di dalam masyarakat kita seperti took-toko, tempat rekreasi, organisasi,pabrik,pasar,hutan dan lain-lain merupakan sumber-sumber yang dapat di manfaatkan untuk belajar. Munculnya konsep masyarakat gemar belajar sepanjang hayat sebagai konsep utama mendorong individu,lembaga,asosiasi ,badan usaha lain yang ikut berpartisipasi dalam mengembangkan cara berfikir baru dalam merespon tantangan kebutuhan baru masyarkat tentang pendidikan dan belajar. Memasyarakatkan usaha pendidikansecara luas melalui organisasi masyrakat dalam dunia pendidikan di kenal juga dengan sebutan masyarakat gemar belajar. Terciptanya masyarakat gemar belajar memberikan nuansa baru dan ruh baru pendidikan di tengah-tengah masyarakat, kondisi ini sebagai wujud nyata model pendidiakn sepanjang hayat. Dengan melebarnya pelaksanaan pendidikan nonformal sesuai dengan koondisi dan konsep belajar pendidikan nonformal serta menjaga mutu dan sensitivitas pendidikan nonformal di tengah-tengah masyarkat, maka lima strategi dasar yang perlu di kembangkan adalah :
Pendekatan kemanusian, masyarakat di pandang sebagai subjek pembangunan. Masyarkat di akui memiliki potensi untuk berkembang dan sedemikian rupa di tumbuhkan agar mampu membangun dirinya.
Pendekatan partisipatif, mengandung arti, bahwa masyarakat di libatkan dalam pengelolaan dan pelaksanaan pembangunan masyarakat.
Pendekatan kolaboratif, dalam pembangunan masyarakatperlu adanya kerjasama dengan pihak lain.
Pendekatan berkelanjutan, pembangunan masyarakat di lakukan secara berkesinambungan, untuk itulah pembinaan kader yang berasal dari masyarakata dalah hal yang pokok.
Pendekatan budaya, penghargaan budaya dan kebiasaan, adat istiadat yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat dalam pembangiunan masyarkat hal yang perlu di perhatikan.
Dengan kelima strategi tersebut, maka pendidikan nonformal seperti apa yang di butuhkan oleh masyarakat dalam arti program pendidikan nonformal yang mampu menyentuh dan mengangkat masyarkat menjadi lebih baik dalam kehidupannya yang di tandai dengan meningkatnya pendapatan kesadaran akan lingkungan sosialnya, atau masyarakat yang mengerti dan memahami bagaimana membangun dirinya.
Mengacu pada prinsip dan stratei dasar yang perlu di perhatikan pendidikan nonformal dalam rangka meningkatkan peranannya dalam masyarakat adalah:
Mengembangkan program-program pendidikan nonformal yang mampu mengembangkan masyarakat, sehingga mereka memiliki daya suai, daya lentur, inovatif dan memiliki sikap dan perilaku mandiri.
Mengembangkan program-program pendidikan yang mampu mngangkat kemiskinan masyarakat peddesaan dan perkotaan, baik melalui program pendidikan keterampilan maupun jenis program pendidikan lain yang mampu menyentuh kebutuhan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Mengenali permasalahan-permasalahan yang dapat di jadikan atau di sentuh melaui peran-peran dan tugas-tugas pendidikan nonformal secara nyata dengan tetap menjaga orisinalitas asas pembangunan masyrarakat oleh dan untuk masyarakat sendiri.
Mengembangkan program-program pendidikan nonformal dengan tetap mengacu pada teknologi pendidiikan nonfornal yang serba baru dan inovatif serta berbiaya murah.
Berdasar pada peran-peran pendidin nonformal serta strategi dasar pengembangannya di tengah-tengah masyarakat, maka penguatan peran pendidin nonformal di arahkan tidak hanya pada, permasalahan-permasalahan pendidin nonformal itu sendiri secara internal, baikyang berhubungan dengan kurikulum, model-model program, sasaran program, maupun keberadaan program peran dan fungsi di tengah-tengah masyarakat.
Kontribusi pendidikan nonformal dalam pemberdayaan masyarakat, secara lebih jelas dapat dilihat dari definisi dan hakekat peran pendidikan nonformal itu sendiri. Kindervatter (1979), memberi peran secara jelas tentang pendidikan nonformal dalam rangka proses pemberdayaan (empowering process), peran pendidikan nonformal tidak saja mengubah individu, tetapi juga kelompok, organisasi dan masyarakat. Pendidikan nonformal sebagai proses pemberdayaan mengandung arti luas, yakni mencakup peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan dan pengembangan kemampuan lainnya ke arah kemandirian hidup.
Kindervatter (1979:13) menjelaskan bahwa: peran pendidikan nonformal sebagai proses pemberdayaan didalamnya meliputi peningkatan dan perubahan sumberdaya manusia sehingga mampu membangun masyarakat dan lingkungan. LaBelle (1976) mengartikannya sebagai strategi perubahan social. Strategi-strategi yang ditawarkan LaBelle merupakan sebuah penguatan bagi penyelenggaraan program-program pendidikan nonformal saat ini terutama daya dukungnya terhadap pemberdayaan masyarakat dan pembangunan masyarakat. Proses pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal perlu dirancang melalui berbagai pendekatan-pendekatan berikut ini:
Pendekatan yang didasarkan kepada kebutuhan masyarakat. Artinya pendidikan nonformal senantiasa harus dikembangkan dan dibangun berdasarkan pada kebutuhan yang ada di masyarakat.
Pendekatan dengan cara menggunakan dan menggali apa yang dimiliki oleh masyarakat setempat.
Sikap yang perlu diciptakan pada setiap orang atau setiap warga belajar agar percaya diri atau memiliki sikap mandiri..
Pendekatan yang memperhatikan dan mempertimbangkan aspek lingkungan. Kindervatter (1979:50)
Lebih memperkokoh keempat pendekatan tersebut kindervatter menyarankan sebuah model pendekatan menyeluruh dalam pengembangan pendidikan nonformal. Pendekatan yang dilaksanakan berdasarkan pada perubahan struktur dan system, misalnya yang menyangkut: hubungan sosial, kegiatan ekonomi, keterampilan, dan system pengelolaan dan peningkatan partisipasi masyarakat baik di desa maupun di kota.
Proses pemberdayaan masyarakat yang sangat erat kaitannya dengan peran pendidikan nonformal meliputi empat karakteristik, yaitu:
Pengorganisasi masyarakat, ialah karakteristik yang mengarah pada tujuan untuk mengaktifkan masyarakat dalam usaha meningkatkan dan mengubah keadaan social ekonomi mereka. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengorganisasian masyarakat antara lain: a) Peranan partisipan ikut terlibat dalam kepengurusan atau tugas kelompok, disamping memanfaatkan masyarakat setempat sebagai pemimpin. b) Peranan fasilitator adalah sebagai perantara atau penganjur. c) Metode dalam proses, mengutamakan metode pemecahan masalah, mengorganisasi masyarakat sebagai kekuatan dasar, diskusi dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil secara demokratis, dan penentuan materi kegiatan berdasarkan hal-hal yang ada dalam masyarakat.
Kolaborasi dan pengelolaan diri, yaitu: pendekatan dengan system penyamarataan atau pembagian wewenang didalam hubungan kerja atau didalam kegiatan. Karena itu perlu ada struktur organisasi yang mendukung dan memperkecil adanya perbedaan status, serta perlu adanya pembegian peranan. Hal-hal yang diperlukan diperhatikan dalam pendekatan ini antara lain: a) Peranan partisipan menerima tanggung jawab dalam kegiatan, menyumbangkan ide-ide atau gagasan melalui wakil-wakilnya dan ikut mengontrol jalannya kegiatan. b) Peranan agen pembaharu, yaitu mengkoordinasikan kegiatan sebagai fasilatator dan nara sumber. c) Metode dan proses, melakukan kegiatan belajardenagn teman, dan adanya kepanitiaan dalam kegiatan.
Pendekatan partisipatif, yaitu pendekatan yang menekankan pada keterlibatan setiap anggota (warga belajar) dalam keseluruhan kegiatan, perlunya melibatkan para pemimpin serta tenaga-tenaga ahli setempat. Agen dalam kegiatan ini berperan sebagai fasilitator, pembimbing, sumber belajar, penghubung dengan sumber dari luar, serta memberikan latihan sesuai dengan kebutuhan.
Pendekatan yang menekankan pada terciptanya situasi yang memungkinkan warga belajar tumbuh dan berkembang analisisnya serta memiliki motivasi untuk ikut berperan.
Kindervatter menyarankan beberapa ciri mendasar yang dapat diidentifikasi dalam proses pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal meliputi:
Pembentukan kelompok kecil yang dapat dilakukan berdasarkan umur yang sama, minat yang sama dan sukarela. Pemberdayaan menekankan pada kebersamaan langkah yangmemungkinkan kelompok dapat berkembang.
Pemberian tanggungjawab kepada warga belajar ini sudah dilibatkan dalam kegiatan perencanaan, penyusunan program sampai dengan evaluasi program yang sudah dilaksanakan.
Kepemimpinan kelompok dipegang warga belajar. Semua kegiatan diatur oleh kelompok, sehingga semua warga belajar memiliki tanggung jawab dalam setiap kegiatan.
Agen, guru, tutor sebagai pendidik berperan sebagai fasilitator.
Proses pengambilan keputusan untuk setiap kegiatan harus berdasarkan musyawarah bersama atau hasil pemungutan suara.
Adanya kesamaan pandang dan langkah di dalam mencapai tujuan tertentu, yang dapat dirumbuhkan dari masalah-masalah actual. Analisis masalah dalam pemberdayaan merupakan hal yang sangat penting,dalam pelaksanaannya diperlukan fasilitator yang cakap dan jeli dalam mengungkap masalah atau kebutuhan yang dirasakan oleh warga belajar.
Metode yang digunakan harus dipilih dan dapat menumbuhkan rasa percaya diri bagi warga belajar seperti: dialog, dan kelompok kegiatan bebas, antara lain; kelompok belajar logakarya yang dilengkapi dengan peralatan yang dapat digunakan warga belajar dan berbagai latihan mandiri.
Bahan belajar diarahkan pada kebutuhan/kenyataan hidup sehari-hari warga belajar. Dan kegiatan belajar ini pada akhirnya harus bertujuan untuk memperbaiki kehidupan social, ekonomi dan atau kedudukan dalam bidang politik.
Berhasilnnya sebuah proses pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Setiap warga belajar dilatih untuk mempunyai tingkat kepekaan yang tinggi terhadap perkembangan sosial,ekonomi dan politik yang terjadi.
Warga belajar dilatih atau diberikan berbagai macam keterampilan sebagai jawaban atas kebutuhan dan masalah yang dihadapinya, dan
Warga belajar dibina untuk selalu suka bekerja sama dalam memecahkan suatu masalah.
Berikut ini diagram bagaimana proses pemberdayaan terjadi melalui pendidikan nonformal:
Diagram. 2.1. Proses Pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal.
Bentuk-Bentuk PBM Sebagi Pilar Pengabdian Masyarakat
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat untuk masyarakat yang bergerak dalam bidang pendidikan. Tujuan di bentuknya PKBM sebagai upaya dari masyarakat untuk mengatasi permasalahan kurangnya perhatian masyarakat akan pentingnya pendidikan selain itu juga membantu masyarakat yang putus dari jenjang pendidikannya PKBM ini masih berada di bawah pengawasan dan bimbingan dari Dinas Pendidikan Nasional. PKBM ini bisa berupa tingkat desa ataupun kecamatan. untuk mendirikan PKBM bisa dari unsur apapun oleh siapapun yang tentunya telah memenuhi syarat-syarat kelembagaan antara lain : 1. Akta Notaris 2. NPWP 3. Susunan Badan pengurus 4. Sekretariat 5. Ijin Operasional dari Dinas Pendidikan Kab/kota.
Cakupan kegiatan antara lain :
Kejar Paket A
Kejar Paket B
Kejar Paket C
PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
KBU (Kelompk Belajar Usaha)
KUPP (Kelompok Usaha Pemuda Produktif)
Pemberdayaan Perempuan
Keaksaraan Fungsional Dasar Dewasa
Taman Bacaan Masyarakat (Perpustakaan).
2.Taman Bacaan Masyarakat ( TBM)
Taman Bacaan masyarakat (TBM) adalah salah satu wadah pendidikan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kembali minat baca masyarakat tanpa membedakan status sosial, ekonomi, budaya, agama, adat istiadat, tingkat pendidikan dan lain sebagainya. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya ekonomi menengah ke bawah, membeli buku adalah sesuatu yang berat. Tentunya selain buku pelajaran untuk sekolah anak-anaknya. Mungkin bagi sebagian dari mereka, membeli beras dan kebutuhan lainnya lebih penting. Tak dapat dipungkiri, memang.Salah-satu solusi untuk persoalan ini adalah dengan dibentuknya Taman Bacaan masyarakat, dimana masyarakat dapat menikmati isi buku tanpa mengeluarkan uang.
Kita ambil contoh TBM ARJASARI. Sebuah Taman bacaan Masyarakat yang berada di Kabupaten Bandung.Taman Bacaan Arjasari contohnya. Dengan menggunakan ruang dapur yang hanya berukuran 3 x 3 meter. TBM ini berkembang pesat hingga sekarang menjadi salah-satu TBM percontohan. masyarakatpun ikut mendukung apa yang dirintis Agus. Dukungan masyarakat dan kebersamaan mereka menjadikan TBM ARJASARI menjadi Taman bacaan yang maju dan memiliki kegiatan tetap yang edukatif. Setelah TBM Arjasari berjalan lancar, Aguspun menghibahkan rumahnya untuk dipakai berbagai keperluan TBM. mendirikan SUDUT BACA SOREANG yang bermodalkan hanya 500 buku. Syarat utama tentu saja buku. namun jika syarat yang satu ini belumlah terpenuhi, ada hal lain yang dapat digunakan terlebih dahulu. Kegiatan, tentunya masyarakat khususnya anak-anak menyukai kegiatan yang dibimbing langsung oleh orang tua/kita sebagai pengelola TBM. Saya berikan contoh disini kegiatan menggambar dan mewarnai, membaca puisi, belajar bersama, berdiskusi, cerdas cermat, bersepeda santai, atau lainnya. Contoh-contoh ini tentunya tidak akan menghabiskan dana terlalu besar. Untuk mewarnai, kita cukup bermodalkan fotocopy gambar yang sering kita temukan di buku pelajaran anak-anak. Untuk pensil warna dan lainnya, kita hanya membutuhkan satu saja karena pensil warna bisa dipakai bersama-sama. Ini juga melatih keakraban dan sosialisasi mereka.Untuk membaca puisi, belajar bersama, berdiskusi, cerdas-cermat lebih cocok diterapkan pada anak-anak usia SD-SMP-SMA. Alangkah senangnya melihat anak-anak kita bermain sambil belajar. Di Taman Bacaan Masyarakat mereka menemukan hal yang baru, dimana mereka bisa mendapatkan pendidikan non formal. Tambahan, untuk menarik perhatian pada TBM kita, sebarkan fotocopy tentang keberadaan TBM dan pada pemajangan buku-buku usahakan agar tampak jelas terlihat dari luar. Tidak punya rak buku untuk memajang? Sayapun memakai berberapa kardus bekas untuk dijadikan meja buku.
3. Rumah Pintar (RP)
Rumah pintar merupakan salah satu bentuk PBM yang berupaya mengentaskan masyarakat kita dari buta aksara. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) sendiri telah mengakui program Rumah Pintar sebagai satuan pendidikan nonformal. Rumah Pintar ini merupakan bagian dari program Indonesia Pintar yang dilakukan Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) untuk memberdayakan masyarakat.
Ketua SIKIB Okke Hata Rajasa menyampaikan dalam paparan pertemuan dengan Ibu Negara Hj Ani Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Kamis (12/5) . beliau mengatakan bahwa untuk saat ini Rumah Pintar sudah ada 253 unit. Program ini juga mendapat dukungan dari Kemendiknas SIKIB menargetkan pada tahun 2014 nanti jumlah Rumah Pintar mencapai 500 unit. "Tahun ini ada 62 unit rumah yang sudah dibangun," ujar Ketua SIKIB. Dan nantinya harapan program pemberdayaan masyarakat melalui Rumah Pintar ini bisa menjadi inspirasi bagi organisasi sosial lainnya. pada acara seminar tanggal 27 Mei nanti. isteri Menko Perekonomian Hatta Rajasa, menambahkan. Model pemberdayaan masyarakat melalui Rumah Pintar sangat bagus sekali mengingat kondisi pendidikan kita sekarang tidak semua di rasakan oleh semua lapisan masyarakat.
Berikut ini diagram bagaimana proses pemberdayaan terjadi melalui pendidikan nonformal:
Diagram. 2.2. Strategi Rumah Pintar Dalam Mewujudkan Paradigama Konflik.
No comments:
Post a Comment