Sunday, 11 December 2016

Kepemimpinan Kepala Sekolah Pendidikan Desa


Tempat Penelitian : PESANTREN DARUL ULUM (SMK Darul Ulum) –AJUNG
Fielnote : 1
Penulis : Mastuki (2014)
Hari ini saya (Mastuki) bersama kedua sahabatku lina dan maimuna bergegas untuk menuju suatu tempat yang akan kita jadikan penelitian, waktu itu tepat sekitar jam 09.00 Pagi kami berangkatnya, di saat matahari mulai memperlihatkan setengah badannya. Tempat yang akan saya jadikan penelitian jaraknya kurang lebih 1 jam dari kampus yaitu tepatnya di desa ajung selatan.  Awalnya kami mau meneliti sebuah lembaga pendidikan swadaya masyarakat yaitu Lembaga Pendidikan Masyarakat(LPM), saya mengetahui keberadaan LPM tersebut ketika saya setiap kali melewati jalan rayanya, yang kebetulan kalau saya pulang sering melewati jalan dekat lembaga tersebut, namun ketika sesampainya di tempat ternyata lembaga tersebut sudah di tutup. ketika saya tanya ke warga sekitar banyak yang mengatakan sudah 5 bulan yang lalu lembaga itu tidak aktif lagi, sehingga tujuan saya untuk mengetahui lebih jauh tentang lembaga tersebut tidak kesampaian, hingga akhirnya sekitar jam 10.10 wib saya dengan sahabat-sahabat saya mencari alternatif lain yaitu meneliti sebuah pesantren yang mana kebetulan di dalan pesantren tersebut juga ada pendidikan formalnya. Tepat jam 10.30 saya akhirnya sampai di tempat yang kami tuju, sambil melepas dahaga saya mengambil uang gocek di saku baju saya untuk membeli es yang harganya masih setaraf dengan kantung orang desa.  Sambil menunggu kepala sekolah saya duduk-duduk di teras kelas sambil menghadap ke arah kiblat, mata sayapun terpesona melihat santri-santri kesana-kemari. Inilah santri yang hidup di tengah zaman kemapanan (Modernis) yang dengan asesoris dan atribut santrinya yang menjadi ciri khas pesantren yang tidak pudar oleh perubahan zaman, dalam fikir saya. Di samping yang aku lihat pondok-pondok santri namun yang menjadi kekagumannu pendidikan formal yang bergedung berlantai berdampingan dengan kehidupan santri sehingga ku pikirannku sampai berkata lagi “ sejak kapan pendidikan pesantren melangsungkan Akad nikahnya sehingga sampai sekarang berdampingan layaknya suami istri” . itu gumamku, tak lama kemudian datang seseorang bertubuh kurus memakai kopiah hitam tak layaknya seperti seorang guru maupun guru-guru yang ada di pendidikan formal, asesoris di dekat hidungnya yaitu kumis tipisnya menjadi khasnya, namun suaranya begitu sopan dan rendah hati ketika dia menyapaku, Dari mana dek katanya ? saya Mastuki bapak dan ini sahabat-sahabat saya semua, mhon maaf sebelumnya saya sedikit mengganggu aktivitas jenengan. Kataku, Tidak masalah dek ini kewajiban saya selaku kepala sekolah di lembaga sini, tak di sangka seseorang yang aku annggap biasa-biasa ini ternyata “Grandmaster” Pesantren. Setelah itu bapak tersebut mempersilahkan kami untuk masuk di sebuah ruangan, ruangan itu ktnya adalah kantor kepala sekolah sekaligus guru-guru, padahal ruangan itu tidak jauh berbeda dengan ruang kelas tapi lebih sempit sedikit. Saya pun di persilahkan duduk di sofa yang berukuran satu meter setengah itupun dengan sahabat-sahabat saya, ya bisa di bilang agak berdesakan sedikit. Kondisi ruangan yang lebih mapan penataan ruangannya kalau di bandingkan dengan ruangan kantor SD ku, itupu 14 tahun yang lalu. Bagaimana dengan kondisi selain ini kata saya . tapi hal ini membuat ku tambah penasaran dengan pendidikan disini. 
Nama saya bapak imam kepala sekolah SMK Darul Ulum disni, dia memperkenalkan dirinya kepada saya. saya pun mmemperkenalkan diri saya dan tujuan kedatangan saya ke pesantern disini.saya bertanya mengenai bagaimana pembelajarannya, tenaga pendidik, total siswa SMK, program pendidikannya. Hal yang membuat saya terkesan yaitu cerita dari bapak imam tentang kondisi peserta didiknya dan masyarakat di daerah sekitar pesantern “ masyrakat disni masih banyak yang belum menyadari dek bahwa pendidikan formal itu juga penting, mengingat kalau ingin mencari pekerjaan ya harus pakek ijazah. Makanya saya sesering mungkin terkadang terjun langsung ke masyrakat untuk memberikan penyadaran saking keinginan saya untuk mendorong masyrakat itu menyuruh anak-anaknya sekolah saya samapai-samapai membawa seragam lengkap, tujuan saya agar orang tua tidak pusing-pusing untuk membeli seragam anaknya, ya alhamdulillah strategi blusukan saya dapat di katakan berhasil dek. Namun yang masih menjadi kegalauan saya yaitu siswa-siswa saya tidak ada satupun yang melanjutkan kluliyah tapi saya serimg kali memberikan motivasi kepada semua siswa-siswa saya dan yang masih menjadi kendala saya banyak siswa saya sebelum lulus sudah kawin duluan, ya maw bagaimana lagi sampai-samapi saya juga menyuruhnya tetap sekolah”, itu cerita dari bapak imam. Setiap menjelang penerimaan siswa baru bapak imam tetap melakukan rutin blusukannya ini beliau lakukan sebagai bentuk pengabdiannya kepada pesantern dan ingin mengajak masyrakat sekitarnya “ tuntas dari yang mananya buta aksara” baginya tidak cukup kalau hanya mengandalkan pesantern sebagai bekal nanti ketika sudah di masyrakat butuh pendidikan formal juga sebagai penunjangnya, tutur beliau. Di sela pembicaraan saya, saya bertanya jenegan blusukan begini samapai kapan berhenti pak. Beliau menjawab samapai keinginan terakhir saya tercapai yaitu bagaimana siswa-siswinya melanjutkan k perguruan tinggi . 
Suasana obrolan kami semakin asyik, walaupun secangkir kopi maupun tak ada hidangan di atas meja di depan duduk kami, tidak sedikitpun mengurangi asyiknya obrolan saya dengan bapak imam. Walaupun sebenarnya perut ini berteriak-teriak dari tadi, selang beberapa menit kemudian terdengar suara ayat-ayat al-qur`an yang bersumber dari mesjid di deket pondok-pondok pesanter. Tunggu sebentar ya dek saya masih mw keluar sebentar, enggeh pak kata ku. Ketika bapak iamm menghentakkan kakinya dengan sepatunya yang sudah berumur tua menuju keluar, saya sedikit mengintip dari bilik jendela yang kebetulan berada persis di belakang tempat saya duduk. Ternyata bapak imam memanggil seoranga guru “ tolong semua siswa-siswa suruh cepat ke mesjid’ itu sedikt yang saya dengar dari percakapannya. Bapak imam memang “leader” yang hebat, kataku. Masih bisa mengingatkan bawahannya di saat begini. 
Ketika bapak imam mulai memasuki ruangan untuk melanjutkan obrolan dengan kami, saya menengok jam di handphone ternyata sudah menunjukkan jam 11.12. guru-guru yang lain mulai berpamitan berdiri dan pamit kepada saya dengan kawan-kawan,”dek saya pamit pulang dulu ya, guru tersebut menghadapkan wajahnya menyalami saya denga kawand-kawand, kemudian juga berpamitan kepada bapak ini. Ketika guru-guru itu sudah keluar, saya mengepakkan kaki saya kepada lina yang duduk di samping saya. saya memberikan isyarat untuk pulang. Walaupun sebenarnya rasa penasaran saya terhadap lembaga disini dan juga khususnya kepada bapak yang tak seperti penampilan guru yaitu bapak imam masih menjadi gundah delinga bagi saya. 






No comments:

Post a Comment