Menengok Sampah Kampus
“Gara-gara Dosenku”
Banyak berbagai tipe yang disandang oleh mahasiswa yang sedang menggeluti dirinya di kehidupan kampus. Para ahli mufasir umum memberikan garis besarnya bahwa tipe mahasiswa ada tiga yakni Pragmatisme, Hedonisme dan Idealisme. Mengenai penjelasan ketiga tipe tersebut saya kira saudara-saudara sekalian sudah mengetahuinya, karna dalam hal ini saya hanya akan menguliti tipe mahasiswa Idealis. Secara singkatnya pengertian mahasiswa idealis adalah mahasiswa yang menjunjung tinggi “nilai”. Apa yang disebut nilai tersebut, nilai yang saya maksud adalah nilai keadilan, nilai kejujuran, nilai kemanusiaan, nilai persamaan. Dan banyak lagi pengertian nilai yang bisa anda dapatkan pengertiannya dimana saja, tapi pada intinya nilai adalah “ruh” yang menjadi pegangan erat oleh seluruh manusia Civitas akademika.
Saya yakin seyakin yakinnya iman bahwa jika mahasiswa menjunjung tinggi nilai, jika dosen menjunjung tinggi nilai, jika profesor menjunjung tinggi nilai, dan jika Rektorpun menjunjungnya. maka tidak ada yang namanya ketidakberesan sistem, keamburadulan sistem. Sebagai contoh semisal berapa ratus bahkan ribu dosen di indonesia bersandiwara ketika mengajar. Mahasiswa layaknya disetir seperti kucing yang memeong-meong di kelas tanpa ada masukan yang cerdas dari pak dan buk dosen. Selain itu kertas-kertas yang terjilid rapi sekaligus tersampul adakah yang benar-benar di kroscek serius, adakah tulisan, refrensi makalah mahasiswa yang dievaluasi. Saya tidak berusaha ingin menyimpulkan semuanya dosen seperti itu. Pembeajaran kampus plin plan seperti itu. Memang ada tapi berapa yang masih memegang erat idealime itu. Mari kita timbang melalui pengumpulan data dari berbagai teknik yang ada. Teknik pengumpulan data melalui wawancara sudah saya banyak saya lakukan dengan melibatkan lisan ke lisan mahasiswa dari berbagai kampus. Rata-rata jawaban mereka sama mengerucut kepada ktidakbecusan dosen.
Selain bukti itu juga melalui observasi yang saya tangkap setiap waktu mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya yakni “skripsi” membuka kembali pedoman karya tulis ilmiahnya, belajar cara menulis kalimat maupun struktur kata yang baik dari titik komanya juga ia pelajari. Itu bukan hal yang aneh kawan karena setiap tahun sarjana yang diwisuda mau tidak mau belajar kembali selayaknya semester satu yang tak mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia.
Sampai kapan hal tersebut terjadi di kelas-kelas kita, kalian kawanku, yang masih duduk manis di kampus. Jangan hanya diam saja saudara-saudara karena ketika kalian diam sama halnya menonton sinetron, bermeong-meong saja. Gertak saja mereka. Secara gertakan yang sopan melalui lisan yang rapi dan sopan. Bu atau pak dosen tolong koreksi dong makalah saja katanya Prof. Ramayulis yang pernah saya baca bukunya katanya guru adalah fasilitator, evaluator, mediator. Jika memang demikan maka letak evaluatornya tolong beri kami contoh dan contoh. Kami kan calon-calon pengganti kalian dan pengganti guru-guru bangsa yang nantinya habis oleh waktu. Jika kami bodoh maka jangan salahkan masyarakat generasi selanjutnya bodoh karena kami yang masih mentah. Dan jika masyarakat telah bodoh apakah boleh saya katakan bangsa ini bodoh.
No comments:
Post a Comment