Thursday, 5 January 2017

MENJERNIHKAN KOMUNIKASI KEBHINEKAAN BANGSA

A. PENDAHULUAN
Sejak jaman dahulu kala, ketika masa-masa kedigdayaan kerajaan di Nusantara masih berjaya. Indonesia sudah dikenal oleh seluruh seantaro penjuru dunia, karena letaknya yang startegis. Yakni terletak di antara dua samudera besar, samudera Hindia dan Pasifik. Selain itu Indonesia di apit oleh Dua Benua besar, benua Asia dan benua Australia. Letaknya yang strategis tersebut menjadikan Indonesia sebagai daerah Transit dari berbagai bangsa di dunia. Mereka datang dari berbagai ras dan suku yang diantaranya membawa culture tersendiri. Inilah salah satu akulturasi budaya di Indonesia Tumbuh dan melahirkan berbagai keunikan. 
Seperti yang diketahui dalam catatan Sejarah masyarakat Indonesia berasal dari berbagai ras baik Melayu, India, Yunan, Melanesia yang menyebar dari sabang sampai merauke. Dari waktu kewaktu mereka melahirkan generasi ke genarasi yang hingga sampai detik ini kita ketahui sendiri di berbagai daerah di Indonesia. Lihat saja pulau di Sumatera disana berdiam jutaan orang yang terdiri dari suku-suku yang beragam. Lihat saja Papua, Kalimantan, Jawa, Bali dan banyak lagi yang lainnya di tempat mereka berpijak pasti memiliki puluhan suku-suku yang berbeda-beda belum lagi bahasa yang mereka miliki. Bahka menurut catatan statistik Nasional jumlah suku di Indonesia mencapai sekian sedangkan bahasa memiliki jumlah sekian. 
Heterogenitas masyarakat Indonesia yang begitu kompleks tersebut perlu kita syukuri sebab itu semua adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa yang diberikan kepada bangsa ini. Cobak kita tengok bangsa-bangsa lain di dunia berapa jumlah kekayaan etnis mereka jika dibandingkan dengan Indonesia. Selain kekayaan suku yang dimiliki oleh bangsa ini. Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang sopan, ramah, semangat gotong royongnya tinggi, dan tenggang rasanya tinggi. Contoh sekilas semisal di desa-desa masih banyak yang kita temui semangat persaudaraan semangat gotong royong dalam membangun rumah sesama saudaranya. Mereka cukup bermodalkan ucapan “terimakasih” “nasi sepiring” sebagai pengganti upah materi. 
Kesantunan masyarakat Indonesia juga tak kalah menarik, coba anda bertanya-tanya kepada orang yang sedang melakukan haji di tanah haram (Mekah). Rata-rata mereka pasti banyak yang mengatakan kalau orang-orang kitalah yang paling sopan dan menghargai bangsa lain. Sikap orang indonesia yang santun dan komunikasinya yang halus suatu bukti jika masyarakat Indonesia dilahirkan oleh leluhur-leluhur yang agung.
Saya sebut kebhinekaan bangsa ini adalah investasi kemanusiaan yang tinggi untuk masa yang akan datang. Walaupun perbedaan Agama, Bahasa, Suku yang dilahirkan dari kebudayaan yang berbeda dengan semangat “Nusantara” kebhinekaan tersebut juga dapat menjadi kekuatan bangsa ini karena jelas dengan kemajemukan masyarakat, Setiap suku memiliki potensial tersendiri yang mempunyai nilai jual yang tak terhingga.
Namun persatuan dan kesatuan yang telah dirawat ratusan tersebut luluh lantah ketika bangsa-bangsa Eropa mengadu domba masyarakat ini dengan politik “De vi ded Et Empire” . Lebih dari itu salah satu dosa terbesar kolonial adalah terjadinya perang saudara antar sesama kerajaan pribumi di Indonesia sebut saja perang saudara antara sultan Ageng dan Sultan Haji yang mengakibatkan hancurnya kerajaan Banten. Padahal Kerajaan-Kerajaan itu sejak awal telah mempunyai hubungan yang harmonis sebagai simbol persatuan lambat laut di tenggelamkan oleh para pengkeruk rempah-rempah (Belanda, Portugis, Inggris) mereka tidak lagi bersama antar kerajaan satu dengan yang lainnya melainkan saling membunuh sesama saudaranya karena bisikan Kolonial. Akhirnya kekuatan nusantara hilang dan musnah. 
Persatuan kebhinekaan sebenarnya masih tersisa ditengah penindasan kolonial namun persatuan tersebut hanya bersifat kedaerahan yang artinya hanya menjadi riak-riak kecil dalam melawan penjajah. Baru pada tangga 28 Oktober para pemuda indonesia sebagai pelopor kebagkitan nasional mulai menggaungkan suaranya 
“ Pertama, Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. bersumpah bertanah air satu tanah air Indonesia, Kedua, Kami putra dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami putera dan Puteri Indonesia, menjunjung bahasa Persatuan, bahasa Indonesia”.
Saat ini kita tau umur bangsa ini dari kemerdekaan sudah mencapai 71 tahun. Angka yang begitu tua sebagai suatu bangsa. Dengan usia tersebut paling tidak secara logika kita semangat persatuan dan kesatuan tambah kokoh. Namun realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat berbangsa saat ini. Persatuan dan kesatuan yang di semboyankan dengan Bhineka Tunggal Ika tersebut mulai kehilangan ruhnya artinya secara psikologis belum mencapai hanya sebatas simbolis saja, terbukti sederet problematika yang terjadi saat ini seperti maraknya ormas-ormas yang mengkafir-kafirkan kelompok lain, Ormas yang tidak setuju dengan ideologi bangsa, konflik antar suku, konflik antar paham Suni-Syiah, Separatisme Papua, dan banyak lagi konflik-konflik yang terjadi.
Melihat Problematika yang terjadi saat ini lalu pertanyaannya, masih adakah nurani yang dominan untuk orang-orang yang sungguh-sungguh dan tulus menghendaki situasi negeri ini membaik dalam menjaga Kebhinekaan itu ? Pertanyaan ini muncul karena mencari kriteria sungguh-sungguh dan tulus itu ternyata sulit. Hampir setiap orang, kelompok berbicara tentang persatuan, toleransi, integritas, kebaikan demi bangsa ini namun fakta menunjukkan sebaliknya. Suara-suara tentang toleransi, persatuan, dan integritas hanya kulitnya saja, hanya tampak dari luar saja. Untuk itulah perlu dihadirkan kembali nilai-nilai kebhinekaan itu dengan membangun komunikasi yang baik antar kelompok, baik kelompok dominan dengan kelompok minoritas. Sebab saya yakin dengan membangun komunikasi yang baik kebhinekaan masyarakat ini akan tetap terawat. 
B. KOMUNIKASI JEMBATAN EMAS DALAM KEUTUHAN BERBANGSA
Kita tau bahwa komunikasi adalah suatu alat untuk membangun hubungan dengan orang lain. Untuk melakukan komunikasi kita tidak dibatasi golongan tertentu yang menghambat komunikasi, sebab komunikasi sifatnya umum artinya untuk semua golongan dimanapun berada termasuk perbedaan Agama. Dalam kacamata saya retaknya perasaan persatuan dan kesatuan yang disimbolkan dengan “Bhenika Tunggal Ika” di Indonesia disebabkan karena masih tertutupnya komunikasi antar golongan yang memiliki perbedaan paham. Contoh saja semisal sejak kecil masyarakat yang ada di pedesaan yang mayoritas mengaku NU dicekoki hal yang anaeh-aneh oleh orang tua tua mereka dengan mengatakan bahwa Muhamadiyah itu keliru karena tidak melakukan begini dan begitu. Akhirnya desas-desus yang diberikan semenjak kecil tersebut yang tidak kita ketahui sendiri kebenarannya menjadi sebuah pedoman kita untuk menyalahkan golongan Muhammadiyah. Masalah tersebut juga melahirkan prasangka-prasangka yang buruk kepada kelompok lainnya. Selain itu yang lebih ekstrim lagi masyarakat kita terutama yang berada didesa-desa mudah terhasut oleh orang tertentu yang memberikan fatwa-fatwa kebencian kepada golongan lain tanpa kita mengetahui secara langsung kebenaran itu. Dan saya kira hal-hal seperti ini banyak kita temui di tengah-tengah masyarakat kita ditengah berlangsungnya disharmonisasi masyarakat. Namun disisi lain mereka banyak mengatakan “Persatuan” dan “toleransi” namun buktinya kontradiktif dengan tindakan sehari-hari. Mereka masih bersikap tertutup atau ekslusif dengan kelompok lainnya. Sikap seperti inilah sebagai salah satu faktor besar mengapa kebhinekaan kita masih belum maksimal secara psikologis. Untuk itu menurut hasil analisa saya jalan yang mudah untuk meredam sikap keekslusifan tersebut dengan “Komunikasi” sebab dengan jalan tersebut prasangka-prasangka yang buruk akan hilang, masalah-masalah yang timbul akan terselesaikan.
C. KESIMPULAN
Dengan alasan apapun juga komunikasi menjadi hal yang amat penting untuk merawat kebhinekaan bangsa ini. Sebab dengan komunikasi prasangkaan antar golongan akan meredam, sederet contoh separatisme, konflik syiah-suni, konflik Islam-Kristen, disebabkan karena tidak adanya komunikasi yang baik diantara mereka. Selain itu kita harus belajar kepada sejarah bangsa kita salah satu faktor terjadinya perang antar suku dan golongan disebabkan karena tipu daya mereka tanpa kita mengetahui secara langsung kebenarannya. Padahal dengan komunikasi hal-hal yang sepele yang mengakibatkan permasalahan besar berperan penting dalam pembentukan mentalitas “Bhineka Tunggal Ika”. Banyak cara untuk melakukan komunikasi tersebut dengan hal-hal yang kecil seperti berbincang-bincang dengan suku lain, mengadakan kegiatan masyarakat bersama, bersikap terbuka dengan golongan lain, dan lain sebagainya. Dengan cara tersebut sikap keekslusifan, sikap kefanatikan terhadap kelompoknya sendiri dengan mudah hilang. Sebab permasalahan mereka dapat teratasi dengan “komunikasi”.

No comments:

Post a Comment