Samsul Arifin di mata saya dan teman2 semasa masih ngampus di IAIN Jember. Di kenal orang yang suka membuat jenaka-jenaka, menyenangkan, jail ke teman-temannya. Dan yang paling saya rindu kepadanya Senyum manisnya yang penuh keikhlasan. Kalau boleh saya katakan jarang orang yang seperti itu. Namun siapa yang mengira di balik semua senyumannya ternyata ia menderita penyakit (Tumor) penyakit yang sangat kronis. Yang menemani beliau sampai ajal menjemput. Kematian Samsul Arifin kembali mengingatkan saya kepada almarhum Senior saya Cak Lubabul Islam atau biasa di dapa Cak Nadib. Beliau sosok senior yang luar biasa bagi bagi daya dan teman2 di pergerakan. Ya tapi siapa yang bisa memperkirakan secara pasti mengenai kematian manusia, tak ada yang bisa secanggih apapun keilmuannya. Bahkan dunia medis saja hanya dapat mengira-ngira. Hanya sang Penciptalah yang paham dan menentukan berapa lama ia hidup di dunia. Kehendaknyapun tanpa melalui kompromi dulu dengan kita. Namun terkadang saya bertanya-tanya mengapa orang-orang baik begitu cepat meninggalkan dunia ini ??. sampai saat ini saya belum menemukan jawaban, Yang jelas semua itu adalah rahasia Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa menunggu kapan kita akan menyusulnya. Disisi lain juga "kematian" yang banyak kita temukan adalah sekecil contoh Tuhan yang diperlihatkan secara nyata kepada manusia agar jangan lupa kepada sang pencipta dan selalu berbuat baik untuk sesama. Kematian samsul Arifin walaupun menjadi luka bagi diri saya namun disisi lain memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa kita hidup di dunia ini hanya sebentar. karena sejatinya kita berasal darinya dan akan kembali ke pangkuannya.
No comments:
Post a Comment