Wednesday, 14 December 2016
"LAPAR"
Pada dasarnya manusia tidak bisa melepaskan diri pada dua aspek yakni kebutuhan kebutuhan rohani dan kebutuhan jasmani. Kebutuhan rohani adalah sesuatu yang menyangkut kebutuhan jiwa manusia semisal agama. Sedangkan Kebutuhan jasmani adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan badan semisal bersenggama dengan lawan jenis, dimana bersenggama adalah instrumen untuk melangsungkan reproduksi manusia ataupun hal yang menyangkut kebutuhan bertahan hidup seperti makan, minum dan lain sebagainya. Untuk itu jika kebutuhan manusia secara jasmani maupun rohani belum tercukupi maka manusia biasanya akan melakukan segala cara demi mendapatkan kebutuhan tersebut. Semisal permasalahan manusia yang sederhana mengenai “Lapar”
Terjadinya lapar disebabkan oleh belum terisinya perut manusia dengan makanan. Sebagian dari kita mungkin memandang sederhana bahwa “lapar” tidak akan menyebabkan hidup manusia bermasalah. Pandangan tersebut tidaklah benar. Walaupun kita memandangkannya sederhana akan tetapi dengan “lapar” banyak manusia berbuat tindakan yang negatif bahkan diluar moralitas kemanusiannya. Para perampok, para penjilat, para penipu rela membumkus nalurinya, rela menghilangkan akalnya, Tega mengambil hak-hak yang bukan miliknya demi mencukupi kebutuhan hasrat “perut”nya. Persahabatan, Nilai-nilai kemanusiaan, Agama yang mereka miliki tak mampu menjadi benteng. Karena mereka telah “lapar”, Itu semua karena kebutuhan jasmani mereka dalam keadaan bermasalah.
Memang masih terdengar sangat sederhana memandang itu semua, bahwa “lapar” hal yang biasa didegar telinga namun fakta di lapangan terjadinya perampokan oleh segerombolan manusia untuk mengambil barang milik manusia lainnya dikarena mereka yang merampok rata-rata kebutuhan hidupnya belum tercukupi dan bisa jadi karena terhimpit oleh kebutuhan ekonomi. Dan tujuan itu semua tidak lain karena mereka “Lapar”, Perut Istri, anak, mereka lapar. Untuk itu segala cara akan mereka lakukan walaupun itu diluar kemanusiaannya.
Cobak lihat lagi para pengemis-pengemis yang banyak kita jumpai di trotor jalanan. Berapa jumlah mereka yang mengemis, mereka rela mengadahkan tangan-tangan merek, rela berada di tengah terik matahari demi sesuap nasi, demi mengisi perut mereka agar tidak lapar. Agar hidupnya dapat bertahan dari waktu ke waktu.
Jadi, salah jika kita memandang sesuatu yang sederhana tidak dapat mengakibatkan rapuhnya kehidupan sosial, tercemarnya kehidupan manusia oleh kejahatan. Efek dari kebutuhan jasmani manusia yang tidak terswujud seperti lapar dapat mengakibatkan tindakan manusia melakukan sesuatu di luar asusila manusia, nilai agama bahkan hilangnya akal budi mereka. Maka benar apa yang disampaikan oleh aktivis Gempar, Perbedaan antara manusia dengan hewan hanya terletak pada “akal” jika manusia sudah hilang akalnya, dia sama dengan hewan.
Namun sebagaian besar manusia juga memandang bahwa “lapar” adalah salah satu metode manusia untuk lebih merasakan bagaimana perihnya hidup jika diposisi masyarakat miskin. Lapar juga dipandang sebagai “guru” karena ia mengajarkan kepada kita semua bahwa disaat lapar kita masih mampu berdiri, mampu melakukan aktivitas, mampu bertahan hidup. Dan lapar juga dipandang sebagai spirit “kekuatan” di saat manusia terjepit hidupnya dia masih mampu berfikir, mencari jalan keluar bagaimana mengisi perutnya dengan jalan yang baik. Dan lapar menurut sebagian orang yang bergama adalah ritual untuk mendapatkan pundi-pundi pahala.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Amazing.....
ReplyDelete