Saturday, 3 November 2018

Siapa Sang Guru di balik Sukarno ?

A.  Sukarno, Murid dan Menantuku
Biografi Sukarno
"Ketika datang waktunja untuk masuk sekolah menengah, bapak sudah tahu apa jang harus dikerdjakannja. Ia menggunakan pengaruh kawan-kawannja untuk memasukkanku kesekolah menengah jang tertinggi di Djawa Timur, jaitu Hogere Burger School di Surabaja.,,Nak," katanja, ,,Maksud ini sudah ada dalam pikiranku semendjak kau dilahirkan kedunia." Semua telah diaturnja dan aku akan tinggal dirumah H.O.S. Tjokroaminoto, ialah orang jang kemudian merobah seluruh kehidupanku.,,Tjokro," ia menerangkan padaku, ,,Adalah kawanku di Surabaja sedjak sebelum kau ada.",,0," kataku gembira, ,,Saja kira dia keluarga kita." ,,Tidak," djawab bapak. ,,Oo, barangkali mungkin keluarga  jang  sangat  djauh,  tapi  tidak  serapat  seorang  kemenakan  atau  paman."  Kemudian  bapak memandang kepadaku sesaat. ,,Kautahu siapa Tjokro?" ,,Saja hanja tahu, dia berkeliling untuk mempropagandakan kejakinan politiknja. Saja ingat dia datang kekampung kita untuk mengadakan pidato dan menginap, bapak dengan dia mengobrol sampai waktu subuh." ,,Tjokro adalah pemimpin politik dari orang Djawa. Sungguhpun engkau akan mendapat pendidikan Belanda, aku tidak ingin darah dagingku mendjadi kebarat- baratan. Karena itu kau kukirim kepada Tjokro, orang jang didjuluki oieh Belanda sebagai 'Radja Djawa jang tidak dinobatkan”.
Ilustrasi diatas yang ditulis oleh Cindy Adam dalam Autobiografi Sukarno adalah awal kisah sang putra fajar sebelum hijrah ke Surabaya dan bertemu dengan sang guru “Haji Oemar Said Tjokroaminoto”. Sukarno atau nama kecilnya sering dipanggil kusno adalah manusia yang terlahir dari pasangan bangsawan darah bali dan jawa yakni Raden ajeng Soekemi Sosrodharjo dan Idayu nyoman ray pada tanggal 6 Juni 101 di kota pahlawan Surabaya tepat di saat fajar menyingsing.[1] Peristiwa inilah yang membawanya kelak dengan julukan  sang putera fajar.
Pendidikan Sukarno dimulai dari didikan sang ayah dan ibu yang keduanya menganut teosofi jawa hindu dan seorang perempuan yang  merawatnya ketika kecil yang kelak membentuk wataknya agar selalu berpihak kepada rakyat jelata yaitu Sarinah.[2] Sedangkan pendidikan formalnya dimulai dari sekolah bumi putera di desa tulung agung, tempat kakeknya tinggal. Disinilah Sukarno mulai belajar membaca, menghitung, menulis dan berbicara bahasa jawa. Di lanjutkan ke sekolah angka loro di Sidoarjo dan ketika memasuki umur 12 ia pindah ke Mojokerto, melihat perkembangan si Kusno begitu cepat ia dipindahkan ke sekolah belanda favorit di Mojokerto ELS. Setamatnya di ELS ia melanjutkan sekolahnya di HBS.[3] Di HBS inilah ia mulai mengenal teori-teori dasar  marxisme yang diajarkan oleh guru Belanda C.Hartogh.


Sukarno Sang Orator
Sudah tidak dipungkiri lagi bahwa kebesaran Tjokroaminoto bukan dongeng semata melainkan berdasarkan fakta-fakta sejarah yang di akui oleh para pendiri bangsa tak terkecuali Sukarno. Seperti yang ia tuangkan di dalam autobiografinya bahwa pertemuannya dengan Tjorko merupakan hadiah terbesar dari Tuhan yang diberikan kepadanya.
Dalam catatan autobiografinya Sukarno juga  mengatakan bahwa peranan sang ayah pak Suekemi sangat berandil besar dalam menentukan masa depan Sukarno termasuk rencana sang ayah untuk memondokannya di rumah panglima besar Sarekat Islam itu. Suekemi yang dikenal sebagai guru sekolah yang berfikiran modernis dan pengikut setia sarekat islam sangat menginginkan anaknya agar belajar banyak kepada pak Tjokro.
aku tidak ingin darah dagingku mendjadi kebarat- baratan. Karena itu kau kukirim kepada Tjokro, orang jang didjuluki oieh Belanda sebagai 'Radja Djawa jang tidak dinobatkan”.
Gang  paneleh bermodelkan rumah Jawa pada umumnya disnilah sang putra fajar muda tinggal dan bertatap muka langsung dengan  si hero Tjorko  sang ratu adil atau sang raja jawa tanpa mahkota yang di idam- idamkan oleh seluruh rakyat khususnya wong cilik, yang namanya sering di sebut oleh tokoh-tokoh kampungnya.
Tinggal bersama keluarga pak Tjokro, Sukarno muda  sangat senang karena perlakuan sang kepala rumah tangga seperti orang tuanya sendiri, menyayangi dan memperhatikannya seperti orang tua pada umumnya. Selain itu tak jarang terkadang ia sering satu meja bareng untuk makan, berdiskusi dan berbincang bersama dengan para tamu Tjokro yang sering datang ke rumahnya.
Lalu lalang para tokoh yang datang ke rumah pak kosnya baik dari golongan kiyai, priyai ataupun Belanda. Sukarno semakin menyadari bahwa pak kos yang tinggal bersamanya itu bukanlah sembarang orang melainkan pemimpin yang sangat di segani. Untuk itu secara secara perlahan-lahan ia mulai memperhatikan dan meniru apa -apa yang di lakukan oleh Tjokro.
Bahkan dalam Autobiografinya ia secara terang -terangan mengakui sendiri bahwa pak Tjokrolah yang mengantarkan dirinya sampai menjadi orang yang besar dan orator yang ulung. Dikatakan oleh Anhar Gonggong, sejarawan Universitas Indonesia “ Andaikan Sukarno tidak didik oleh Tjokroaminoto, niscaya ia tidak akan menjadi sukarno yang kita kenal hari ini”.
Dibawah didikan Omar said Tjokroaminoto, Sukarno muda digembeleng menjadi orang yang tangguh, kritis dan haus akan buku-buku. Dan inilah yang mengantarkannya lebih jauh ke samudera pengetahuan sehingga ia banyak bertemu pemikiran pemikiran tokoh tokoh barat seperti Abraham Linclon, Thomas Jeffreon, George Washington. Bahkan, Soekarno semakin jauh menyelami pemikiran Karl Marx, Frederick Engels, Lenin dan sampai menuju revolusi Prancis.[4]
“Dalam suatu kesempatan Tjokro yang sedang asyik membaca dihampiri oleh Kusno, Lalu Tjokro menyodorkannya buku berjudul de franse revolutie”.[5]
Selain itu orasi Tjokroaminoto yang menggelegar dan mampu menggetarkan hati masa tak terkecuali lawannya, membuat Sukarno terpikat dan mulai meniru gaya sang guru, Anhar gonggong menilai gaya orasi sukarno adalah hasil adopsinya dari Tjokroaminoto.[6]
 Ketika Tjokroaminoto berkeliling ke daerah daerah untuk mengkampanyekan gagasan-gagasan politiknya. Sukarno tak segan-segan menawarkan diri untuk mendapingi sang guru kemanapun ia pergi sembari mengamati dan menyadap sang guru berorasi.
 “Cerminanku adalah Tjokroaminoto, aku memperhatikan bagaimana dia menjatuhkan suaranya, aku melihat gerak tubuhnya, dan mengamatinya untuk kepentinganku” kata Suarno.[7]
Tak hanya di glangangg lapang Sukarno terus mencari cara bagaimana  agar dirinya semakin dekat dengan sang mentor. Seperti yang di ceritakan oleh Harsono Tjokroaminoto yang di tulis oleh Soebagijo :
“Bung Karno memang sudah nampak keinginannya untuk menjadi orang yang nomor satu. Mula-mula ia mendapatkan kamar di belakang dan karena keadaan, penerangan pada waktu malam untuk belajar hanyalah lampu teplok belaka, yang dekat kamar dengan Tjokroaminoto. Dan Tjokroaminoto dengan pandangan hatinya yang tajam membiarkan Sukarno berbuat yang demikian”.[8]
Nuroni suyomukti menambahkan bahwa julukan sang singa podium yang dilekatkan kepada sukarno sebenarnya merupakan kata yang pernah melekat di dalam diri Tjokro.[9]
Berkat Tjokro, Sukarno muda tumbuh menjadi pemuda yang kritis, cerdas, dan selalu berpihak kepada orang orang yang lemah. Perkembangan Sukarno yang demikian juga disadari oleh Tjokro, untuk itu setiap kali Tjokro kedatangan para tokoh tokoh nasional Tjokro selalu mengajak Sukarno untuk mendengarkan dan ikut terlibat dalam meja meja diskusi seputar permasalahan kebangsaan. Selain itu bersama kawan kawan kosannya seperti Darsono, Muso ia sering berdiskusi seputar permasalahan yang dihadapi rakyat mengenai kesengsaraan rakyat yang di akibatkan eksploitasi oleh kolonial :
Sukarno:“Berapa banyak yang di ambil Belanda dari Indonesia”Tjokroaminoto: “De Verneigde Oost Indische Compagne” kira-kira 1800 juta gulden dari tanah air kita setiap tahun untuk memberi makan Den Haag”.Sukarno: “Apa yang tersisa di negeri kita, tanya Sukarno”.Alimin: “Rakyat tani kita yang bekerja mandi keringat mati kelaparan karena hanya mendapat penghasilan sebenggol sehari”.Muso: “Kita menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa”.Tjokroaminoto: “Sarekat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi-mosi kepada pemerintah.jelas pak tjokro, yang kelihatan senang karena melihat murid yang begitu semangat.”perjuangan pajak dan serikat-serikat buruh hanya dapat diatasi dengan bekerja sama dengan Belanda, sekalipun kita membernci kerjasama ini ”.Sukarno: “Tapi apakah baik membenci seseorang, sekalipun dia orang Belanda”.Tjokroaminoto: “Kita tidak membenci rakyatnya, kita membenci sistem pemerintahan kolonial”.Sukarno: “Mengapa keadaan kita tidak menjadi lebih baik jika rakyat kita telah berjuang melawan sistem ini selama berabad-abad”.Alimin: “Karena pahlawan-pahlawan kita selalu berjuang sendiri-sendiri Masing-masing berjuang dengan pengikut yang kecil di daerah yang terisolasi dan terpencil. Sukarno: “Ya, mereka kalah karena tidak bersatu,”.[10]
Berbekal mentor dari sang guru Sang putra fajar tumbuh menjadi orang yang piawai dalam berdebat dan berdiskusi sehingga tak sedikit perempuan yang tertarik kepadanya tak terkecuali anak sang mentor yang jatuh ke pangkuannya “Oetari Tjokroaminoto”.
Keduanya akhirnya menikah dimana Sukarno pada saat itu  masih berusia sekian 14 tahun, dalam catatan Jonar T.H Situmorang di jelaskan bahwa sebenarnya perkawaninan antara Sukarno dan Oetari lebih kepada berdasarkan rasa belas kasih Sukarno kepada gurunya yang semasa di tinggal oleh Istri tercintanya Sumarsikin, Tjokroaminoto merasa kwatir akan nasib anak anaknya karena di satu sisi ia harus berjuang memimpin Sarekat Islam. Namun ada versi lain yang mengatakan bahwa perkawinan mereka berdua karena adanya desakan dari ibu Sukarno untuk meminang anak sang mentor.[11]
Sewaktu Tjokro di penjara karena di tuduh oleh pemerintah menjadi dalang di balik pemberontakan SI Afdeling B di Garut, Sukarno berperan menggantikan Tjokro sebagai tulang punggung keluarga dengan mengurusi anak anak mertuanya bahkan ia sempat menyunatkan salah satu anak Tjokro.
 Namun menjadi tulang punggung muda tak menyurutkan Sukarno dalam melanjutkan perjalanan karirnya. Selepas Tjokro keluar dari penjara. Sukarno kembali lagi ke ITB untuk melanjutkan sekolahnya. Kehijrahannya ke bandung yang kedua kalinya inilah awal sang putera fajar mulai memperjuangkan ide-idenya lewat organisasi yang berbeda dengan sang mertua yang akhirnya inilah awal  permulaannya berpisah dengan sang mentor. Di dalam “Sarinah” ia menceritakan bahwa ia bersama sang pemimpin sarekat Islam itu enam tahun lamanya.[12]




[1] Badri Yatim, Sukarno Islam dan Nasionalisme (Bandung: Penerbit Nuansa, 2001), 5. Perlu diketahui bahwa sampai detik ini banyak orang yang menilai bahwa Sukarno terlahir di Blitar, sebuah kota yang terletak di selatan Jawa Timur. seperti yang pernah di kutip dalam pidato Presiden Joko widodo, padahal hal ini sangatlah keliru karena dalam catatan sejarah dan pengakuan langsung dari Sukarno mengatakan bahwa beliau terlahir di Surabaya , kotanya para pahlawanan namun karena adanya distorsi sejarah yang dilakukan oleh kelompok Orde Baru untuk mengenyahkan nama proklamor bangsa ini banyak orang percaya bahwa beliau terlahir di kota Blitar.
[2] Salah satu karyanya yang ia beri judul “Sarinah” adalah bentuk kecintaan dan penghormatannya terhadap sosok perempuan yang selama ini merawat dan membentuk kepribadiannya untuk menjadi Sukarno kecil yang selalu berpihak kepada orang-orang yang terlantar dan miskin. Buku tersebut merupakan proyek terbesar sukarno untuk memberikan apresiasi terhadap perempuan yang seama ini menjadi inspirasinya. Tidak hanya melalui sebuah buku nama Sarinah juga beliau kukuhkan sebaga nama Jalan dan gedung megah pertama kali yang dimiliki oleh bangsa ini pada era orde lama. Baca Sukarno, Sarinah “ kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia “ (Yogyakarta: Buku-buku Karangan Presiden Sukarno,1963), 5-6.
[3] Badri, hal 8.
[4] Nuroni Suyomukti, Soekarno dan China (Yogyakarta: Garasi, 2012), 18-19.
[5] De franse revolutie adalah sebuah buku tentang revolusi perancis, melalui buku tersebutlah Kusno muda mulai mengembara memasuki gerbang gagasan revolusi di benua Eropa yang menjadi tempat bersarangnya kapitalisme.
[6] Kamar sudut paling belakang menjadi saksi bagaimana sukarno muda sering berlatih berorasi tatkala ia telah selesai mendengarkan ceramah ceramah tjokroaminoto. “Persetan dengan penindasan” hancurkan imperialisme kata Sukarno.
[7] Cindy Adam., Bung Karno Penyambung Lidah rakyat. hlm 7. Baca juga Raharjo , Imam Toto K Suko Sudarso, Bung Karno Islam dan Pancasila, NKRI (Jakarta: Penerbit KNRI, 2006), 543. Di dalam buku tersebut di ceritakan bahwa ketika kongres gerakan wanita partai syarikat islam indonesia, Sukarno mengatakan ,” I try to live up to the teaching of Tjokroaminoto”,.
[8] Soebagijo LN, Harsono Tjokroaminoto Mengikuti Jejak Perjuangan sang ayah (Jakarta:Gunung Agung, 1985),8.
[9] Nuroni Suyomukti, Perempuan di mata Sukarno (Yogyakarta: GARASI, 2009) ,67.
[10] Cindy Adam, Autobiografi Sukarno Penyambung Lidah Rakyat (Jakarta:Yayasan Bung Karno, 2014), 4.
[11] Jonar T.H. Situmorang, Bung Karno Biografi Putra Sang Fajar (Yogyakarta: Ar Ruzzmedia, 201lima), 196. Baca juga. Ipnu Rinto, The Love of Story of Bung Karno (Yogyakarta: Buku Pintar, 2013), 60.
[12] Sarinah., 251.

Pare

Wednesday, 21 March 2018

" Syahadad Palsu"

Fakta yang terjadi di negeri ini sekarang adalah keberadaan segelintir makhluk di republik ini yang mencedrai cita-cita para Founding Father. Yang mengubur hidup-hidup kepentingan bangsa. Yang menggadaikan idealisme semata. Semua itu tak lain dan tak bukan karena mengejar isi perut semata. Tak perlu jauh-jauh kita menelusurinya karena kita sendiri setiap detik mencium sendiri bau kentut itu. Betapa busuknya mereka yang menjual harapan suci rakyat dengan Sekejab. Harapan yang pada mula-mula membuat kita merinding tatkala mereka sebelum duduk di singgasana parlemen sudah mensyahadadkan dengan lantang tepat di depan pantat kita "Jika saya menjadi maka saya akan begini begitu". Harapan yang di harapkan menjadi "thoriq" yang akan mengangkat martabat bangsa ini. 

Para mualaf politisi ini berikrar akan menjalankan rukun keadilan, kemakmuran, kemandiran bahkan berkebudayaan. Namun itu semua tidak berumur panjang. karena ternyata 'syahad" mereka bukan syahadad keimanan, melainkan syahadad pura-pura yang berisi kebohongan semata yang di bungkus dengan kata-kata bijak, ayat, data sebagai topeng untuk menutupi kebohongan. Namun anehnya dengan kesekian kalinya kita masih sering dikelabui para penipu itu di periode selanjutnya. Dengan mudah kita melupakan seluruh perbuatann dzolimnya beberapa waktu yang lalu atau jangan-jangan kita telah membiarkannya lupa, pura-pura lupa dengan meretas syahadad kesucian yang telah di warisi oleh kakek nenek moyang kita sehingga yang terjadi kita tak mau peduli lagi belum lagi di tambah logistik yang telah membungkusi akal waras kita sebagai manusia. Lalu yang menjadi pertayaannlah adalah perlukah kita harapan itu jika kita sendiri menjual kewarasan itu dengan harga logistik bungkusan ??.. mari kita renungi bersama...............

Monday, 19 March 2018

"Belajar dari Tjokro dan Said Nursi".

Spirit kelahiran modernisme barat mendorong mereka untuk melakukan ekspansi ke belahan dunia lain untuk mengeksploitasi tak terkecuali wilayah Islam. Selain menjajah mereka juga melakukan sekularisasi terhadap umat Islam guna merejus nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Di Indonesia, sekularisasi di lakukan melalui sistem pendidikan “Political Etis” dimana di dalamnya di ajarkan mater-materi tentang kehebatan dunia barat dan menghilangkan materi yang berbau agama. dampak yang terjadai adalah output dari pendidikan tersebut lebih berhasrat kepada hal-hal yang berbau materi seperti jabatan dan mengingkari agamanya. tokoh pembaharu islam yang bernama Tjokroaminoto, ia sangat menentang perilaku masyarakat yang mengadopsi materialisme barat sehingga ia menjulukinya “masyarakat djahiliyah modern” namun ia tidak menafikkan mengenai kemajuan barat maka ia menawarkan pendidikan integrasi modernisme dengan di landasi trilogi setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid dan sepintar-pintar siyasat melalui “sarekat Isalm”. Sementara itu di Turki pada era kemal attaruk demi menjadikan Turki sebagai negara maju ia melakukan sekularisasi dengan prinsip sekularisme, nasionalisme dan paradigma kehidupan modern (barat) ke dalam pemikiran masyarakat. Sehingga yang terjadi corak masyarakat Turki kental dengan keislamannya sampai runtuhnya otoman berubah drastis dengan digencarnya sekularisasi termasuk dunia pendidikan. Kemal menutup semua lembaga pendidikan yang berbau Islam seperti madrasah, ia meyakini bahwa untuk mengejar ketertinggalan Turki harus meninggalkan nilai-nilai Islam dan mulai meniru Baratk. Said Nursi sebagai tokoh pembaharu Islam resah melihat keadaan masyarakat Turki yang sudah tercekoki westernisasi termasuk dalam dunia pendidikan. Ia menawarkan sebuah pendekatan epistemologis yang mengintegrasikan Islam dan ilmu pengetahuan melalui gagasan “medrasah”.

Sebagai seorang Muslim khsusunya Muslim yang menghadapi perubahan zaman yang tak menentu perubahannya ini. sudah sepatutnya kita hari ini membuka lebar-lebar cara berfikir kita bahwa apa yang di teorikan oleh Barat sebagai basis ilmu yang membuatnya i menjadi bangsa maju harus kita pelajari dan rebut pengethuannya selanjutnya kita terapkan di dalam dunia pendidikan islam secara Islami demi kemajuan dunia Islam itu sendiri. kita jangan menutup mata bahwa sebaliknya kemajuan dunia barat saat ini tidak bisa mereka nafikkan karena keberhasilan mereka belajar dari kejayaan Islam pada masa lalu. artinya saya ingin katakan bahwa Umat islam tidak boleh menutup diri, pendidikan Islam tak boleh ortodoksi dengan lantang mengkafirkan semua ilmu yang berasal dari Barat. karena jika mindset mayoritas umat Islam seperti ini, maka Umat islam tetap tak kan pernah maju peradabannya alias menjadi ma`mum bagi peradaban lainnya seperti pesan-pesan yang di gagas oleh pembaharu islam yakni said Nursi dan H.O.S Tjokroaminoto.

Friday, 6 October 2017

Surat al – dzariyat dan menjernihkan visi pendidikan islam

Surat al – dzariyat dan menjernihkan visi pendidikan islam
a.       Parsialitas penafisaran.
Diyakini atau tidak sampai detik ini peradaban islam masih jauh tertinggal dengan peradaban bangsa bangsa lainnya seperti eropa, amerika, japan dan asutralia yang notabennya mereka adalah masyarakat non islam. Islam kurang mendatkan tempat dalam memainkan pengaruh percaturan dunia saat ini, terutama semenjak diharamkannya  menggunakan akal secara total oleh golongan islam itu sendiri yang senang islam berjalan di tempat. Kemunduran peradaban islam dalam khasanah kelimuan berawal dari penafsiran yang sempit terhadap sumber sumber ajaran islam sehingga berdampak kepada visi pendidikan islam di masa kini, dan memungkinkan juga akan  terjadi jika masih terus di peihara.
Salah satu ayat yang di gunakan sebagai rujuan visi pendidikan islam adalah surat al dzariat  ayat 56 “ karena aku tuhan tidak meciptakan jin dan manusia melainkan mereka menyembahku “. Dalam surat tersebut ada kata ibadah yang dipakai sebagai hujjah bahwa islam itu sejatinya hanya melakukan ritual dengan Tuhan, menatap langit tanpa merektualisasikan ke dalam realitas dunia. Ajaran tuhan seolah oleh hanya tergelantung di langitnya tanpa harus dibumikan ke dalam kehidupan kemanusian. Kejemukan pola fikir seperti inilah yang menyebabkan runtuhnya khasanah keilmuan dalam pendidikan islam sehingga tak lagi punya gairah untuk mencetak para generasi generasi islam . Mengambil bahasa bung karno dalam islam suntoloyo, islam itu menjadi kolot, karena orang islam itu snediri yang tak mau berfikir maju.
Makna ibadah seperti madu yang tak memiliki rasa manis. Ia kehilangan ruhnya untuk menjadi spirit kemajuan islam. Karena sekali lagi ibadah lazimnya hanya di artikan pemenuhan hamba sebagai seorang mahluk kepada sang khalik melalui berbagai macam ritual seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Padahal untuk membentuk seorang muslim yang mempunyai kesolehan sejati, seorang muslim harus melakukan perbuatan baik kepada sesama muslim ataupun manusia secara umumnya, seperti gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, dan pengembangan sumber daya alam sebagai modal kehidupan di masa yang akan datang. Hal ini berarti bahwa seorang muslim tidak boleh hanya menatap langit, ia harus menatap dunianya sebagai pijakan hidup dan modal untuk menjadi hamba yang sejati.
Untuk itulah sudah sepaptutnya ayat tersebut di artikan secara komperhensif demi kemajuan islam itu sendiri khususnya dalam bidang pendidikan. Sehingga hal ini akan berdampak kepada kemajuan islam dalam melihat perkembangan arus zaman yang bergitu cepatnya. Menafsirkan ayat tersebut bukan berarti menyakahkan gunakan pengertian ayat islam namun memurnikan tafsir al quran demi islam itu sendiri.
Interpretasi visi yang jelas terhadap sumber-sumber islam akan membawa islam kepada pendidikan islam yang real dan visi yang jelas. Mengapa visi, Karena tanpa visi islam akan kehilangan arah dalam menatap masa depan khususnya di era globalisasi yang begitu cepatnya. Ismail al faruqi menambhakn bahwa proses de islamisasi yang sedang bergejolak dalam tubuh islam karena lemahnya visi sehingga secara terus menerus menidurkan kaum muslimin. Padahal ia menambahkan bahwa visi merupakan ruh islam dalam menjawab tantangan jaman agar islam selalu fleksibel dan berada di garda depan. Salah satu akibat the lack of vision di dalam lembaga pendidikan adalah bergesernya praktik pendidikan menjadi identik mengajar or transfer of knowledge atau teaching and ta`lim bukan education, tarbiyah, and ta`dib . padahal ketika kita benar benar jujur bahwa pendidikan islam  di masa keemasannya bukan hanya di artikan transfer of knowledge melainkan transfer of metodology and transfer of value. Untuk itu jika hal tersebut kita hadirkan dalam bangunan realitas kita maka akan tampak kemajuan islam karena dengan transfer of metodologi siswa tidak hanya di cetak menjadi muslim yang sejati tetapi juga yang selalu siap mengahapi jaman dan kemajuan visi keislaman di segala zaman apapun.



Wednesday, 4 October 2017

Era Milenial , and Good bay Komunisme

hir-akhir ini, masyarakat indonesia ditakutkan dengan kehadiran jelmaan hantu komunisme. Itu terlihat dari serangkaian perayaan Nobar di banyak tempat ibadah yang disponsori oleh aparat pemerintah tiga hari yang lalu. PKI yang berkepanjangan partai komunis Indonesia yang pernah bercokol sekitar 42 tahun yang lalu di yakini akan bangkit kembali. Momentum ini kembali muncul di permukaan seiring bertepatan gerakan 30 yang jatuh pada tanggal 30 september. Selain itu perayaan ini juga ditayangkan di berbagai sekolah yang menjadi ladang untuk mencetak para generasi milenial bangsa.  
Film yang masih kontroversional dalam kalangan sejarawan tersebut disajikan kepada anak anak kita, yang notabennya cenderung tidak tau menawu benar tidaknya sejarah yang ditampilkan dalam film tersebut. Dalam catatan saya mengatakan bahwa pemerintah mencoba membawa mundur generasi emas kita kepada masa lalu yang masih abu abu dan membawa kembali kemasa kini dan yang akan datang dengan membawa dendam dan perasaan takut. Artinya generasi melenial saat ini tidak diajak memandang kedepan, kearah kemajuan untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa bangsa lain. Mereka disuruh berteriak teriak “bunuh PKI, bunuh Komunisme, “. Padahal sudah jelas kita tau sendiri bahwa PKI telah lama mati di bumi pertiwi ini nak.
Kita harus melihat di belahan dunia sana, bahwa sudah tidak ada lagi tempat bagi Komunisme lama terutama di era keterbukaan saat ini. Kita lihat saja China yang awalnya Komunisme sudah mulai bermetamorfosa ke arah kapitalisme, Rusia pula juga demikian bagaimana ekonominya mampu menguasai market dunia. Begitupun juga Korea Utara yang selalu memamerkan teknologinya untuk mendapatkan perhatian dunia . Artinya saat ini komunisme lama yang kita takutkan telah tiada. Karena sejatinya saat ini baik new komunisme ataupun kapitalisme seperti dua mata koin yang sama sama mempunyai tujuan yakni untuk menguasai perekonomian dunia .
Untuk itu seharusnya pemerintah dan masyarakat mengajak generasi melenial ini untuk menatap indonesia kedepan. Untuk bagaimana dapat berdiri sama dengan bangsa bangsa lainnya apalagi mengingat indonesia dipandang sebagai salah satu perekonomian dengan pangsa pasar yang tinggi, yang tentunya bisa menjadi modal bagi bangsa ini ataupun sebaliknya senjata yang akan merenggut nyawa tuannya.


Sunday, 1 October 2017

Gerakan Literasi VS Gerakan Nobar

Gerakan Literasi VS Gerakan Nobar
Menurut catatan literasi dunia negara kita berada di peringkat ke 60 dari 60 negara dalam hal gerakan literasi. Hal ini membuktikan betapa minimnya minat baca masyarakat indonesia yang berjumlah kurang lebih 300 Juta manusia saat ini. Padahal gerakan literasi sangatlah penting untuk suatu bangsa sebagai modal untuk melahirkan manusia-manusia yang berkualitas. Untuk itu segala cara telah di lakukan oleh para penggiat-penggiat literasi untuk memperbaiki ketertinggalan indonesia dengan negara-negara lainnya. salah satu caranya dengan membumikan selogan di berbagai media sosial bahwa “Literasi penyelamat kebodohan”. Dengan cara ini diharapkan masyarakat tersadari dan melek betapa pentingnya literasi bagi kehidupan. Sementara itu beberapa inisiatif dari perpustakaan daerah saat ini yang bergerak ke berbagai tempat yang sulit di akses juga mendorong masyarakat untuk membaca.

Namun disisi lain hal ini bertolak dari harapan para penggiat literasi yang menyayangkan sikap pemerintah yang menggiring masyarakat Untuk menonton bareng film G30SPKI di berbagai tempat. Padahal film sejarah ini masih menimbulkan kontroversi dan perdebatan di kalangan sejarawan akan keotentikannya. Dan gerakan nobar ini tidak membuat masyarakat semakin cerdas mengenai sejarah justru mereka akan semakin kabur pengetahuannya bukan hanya untuk generasi saat ini tetapi juga untuk generasi selanjutnya. Masyarakat telah digiring kepada kebenaran yang masih kabur yang tentunya dengan menonton film tanpa mengetahui sendiri sumber sumbernya akan memalaskan fikiran mereka untuk berfikir. Padahal cara terbaik untuk mengetahui sejarah bukan dari sebuah film melainkan dari membaca, karena film tidak akan pernah mencerminkan wajah asli dari sumber aslinya apalagi mengingat film ini di buat ketika masa rezim Soeharto yang cenderung membaca sejarah secara tunggal.  Gerakan Literasi VS Gerakan Nobar
Menurut catatan literasi dunia negara kita berada di peringkat ke 60 dari 60 negara dalam hal gerakan literasi. Hal ini membuktikan betapa minimnya minat baca masyarakat indonesia yang berjumlah kurang lebih 300 Juta manusia saat ini. Padahal gerakan literasi sangatlah penting untuk suatu bangsa sebagai modal untuk melahirkan manusia-manusia yang berkualitas. Untuk itu segala cara telah di lakukan oleh para penggiat-penggiat literasi untuk memperbaiki ketertinggalan indonesia dengan negara-negara lainnya. salah satu caranya dengan membumikan selogan di berbagai media sosial bahwa “Literasi penyelamat kebodohan”. Dengan cara ini diharapkan masyarakat tersadari dan melek betapa pentingnya literasi bagi kehidupan. Sementara itu beberapa inisiatif dari perpustakaan daerah saat ini yang bergerak ke berbagai tempat yang sulit di akses juga mendorong masyarakat untuk membaca.
Namun disisi lain hal ini bertolak dari harapan para penggiat literasi yang menyayangkan sikap pemerintah yang menggiring masyarakat Untuk menonton bareng film G30SPKI di berbagai tempat. Padahal film sejarah ini masih menimbulkan kontroversi dan perdebatan di kalangan sejarawan akan keotentikannya. Dan gerakan nobar ini tidak membuat masyarakat semakin cerdas mengenai sejarah justru mereka akan semakin kabur pengetahuannya bukan hanya untuk generasi saat ini tetapi juga untuk generasi selanjutnya. Masyarakat telah digiring kepada kebenaran yang masih kabur yang tentunya dengan menonton film tanpa mengetahui sendiri sumber sumbernya akan memalaskan fikiran mereka untuk berfikir. Padahal cara terbaik untuk mengetahui sejarah bukan dari sebuah film melainkan dari membaca, karena film tidak akan pernah mencerminkan wajah asli dari sumber aslinya apalagi mengingat film ini di buat ketika masa rezim Soeharto yang cenderung membaca sejarah secara tunggal.  

Sunday, 19 March 2017

Agama Pilkada



Setalah putaran pertama pada pilkada Jakarta 15 Februari lalu, Kini masyarakat Jakarta memasuki babak penentuan Gubernur dan Wakil Gubernur mereka. Dimana dua kekuatan besar akan bertarung di arena laga yang satu di pimpin oleh Si Anies dan Satunya oleh Si Pertahana Ahoek. Dalam fase penentuan ini dalam kaca mata saya sebagai penikmat laga pertarungan ada satu hal yang membuat saya geram akhir-akhir ini, mungkin hampir sebagian besar pemirsa di seluruh seantaro negeri khususnya orang islam ahlu sunnah wal jamaah Nu. Bagaimana tidak geram, hampir seluruh media menyoroti masalah kelompok orang islam yang secara terang-terangan tega tidak menyolatkan saudara seagamanya si nenek hindun si tua renta yang baru saja meninggal, karena persoalan beda pilihan calon. Bagi saya apa yang dilakukan kelompok islam fanatik tersebut sangat menjijikan. Memberikan citra yang buruk mengenai ajaran Islam. 
Apa yang mereka lakukan tidak terlepas dari situasi gentingnya Pilkada saat ini, dimana segala properti digunakan untuk memenangkan satu kelompok. Jika hujatan “Anjing,babi” cap fitnah, “anti agama” dan black campaign dirasa tidak cukup sebagai senjata untuk memenangkan pasangan suatu calon maka Agamapun  dijadikan kendaraan  untuk kemenangan mereka.
Kejadian si nenek hindun tersebut bagi saya jelas membuktikan bahwa kelompok yang melebelkan haram dishlatkannya nenek hindun hanyalah kelompok Islam ingusan, terutama di saat menjelang Pilkada. Kelompok yang bertopeng membela Islam, namun kenyataannya malah memberikan citra yang buruk terhadap ajaran Islam.
Bahkan tak jarang di antara mereka secara tidak langsung menghakimi teman seagamanya seolah-olah dirinya Tuhan yang memberi keputusan. 
Mungkin inilah yang disebut dengan Agama Pilkada, agama yang hadir di saat pemilihan calon pemimpin, Agama yang ditafsirkan kelompok tertentu demi kepentingan kelompok ataupun partai. Dan agama yang hadir setiap 5 tahun sekali baik Pilkada maupun Pilpres. Lalu sampai kapankah tindakan seperti ini akan hilang dalam pesta demokrasi ini, saya yakin di saat-saat Pesta demokrasi nantik akan hadir episode-episode selanjutnya yang lebih tidak manusia seperti kasus Nenek hindun jika hal ini terus dibiarkan.
   

Tuesday, 14 February 2017

MERANTAU DAN PENJANTAN TANGGUH

"Belum dikatakan laki-laki  jantan jika dirinya tidak pernah merantau" itulah petuah yang menjadi pegangan masyarakat Minangkabau di sumatera barat sampai detik ini. Kata merantau bagi mereka sudah seperti ritual suci yang harus dirasakan oleh semua anak laki-lakinya. Maka tidak heran semenjak jaman nenek moyang dulu. masyarakat minangkabau dikenal orang yang suka merantau ke daerah-daerah lain. Selain masyarakat minangkabau, ada juga masyarakat pulau garam atau yang biasa kita kenal orang madura-Jawa Timur dikenal orang yang suka merantau kemana-mana. Daerahnya yang kurang subur  nan panas mungkin menjadi salah satu faktor mental "Nekat" yang dimilikinya untuk merantau ke daerah-daerah lain di seluruh seantaro Indonesia. Maka jangan heran dari sabang sampai mereauke kita akan menemukan orang madura. Orang minangkabau yang merantau, mengais pundi-pundi hidup nan jauh dari tempat kelahirannya banyak menjadi manusia yang sukes, cerdas dan terkenal seperti contohnya M.hatta, agus salim, Hamka dll. Sama halnya juga dengan orang madura, rata-rata mereka sukses di tanah rantau. Menjadi orang seutuhnya di tengah2 daerah barunya. Lalu apa makna di balik Merantau. Menurut kaca mata penulis merantau mempunyai banyak makna yang yang perlu kita ketahui, yakni 1). Dengan merantau kita akan menemukan hal-hal yang baru seperti Teman baru, suasana baru, wawasan baru, pemikiran yang baru. 2). Melatih mental kita
 Maksudnya disini ketika kita merantau ke suatu daerah yang belum pernah kita datangi. Di tempat baru tersebut kita di tuntut untuk bagaimana untuk makan, berteduh, mendapatkan uang. Jika tidak maka kita akan mati mengenaskan. Agar hal tersebut tidak terjadi maka kita menggunakan otak kita semaksimal mungkin *how to be live* bagaimana untuk hidup. 3), dengan seringnya kita menemukan hal yang baru membuat cara berfikir kita lebih dewasa dan matang.

Sunday, 12 February 2017

*Dekontruksi Masyarakat Konsumtif sejak dini*

Dalam peringkat pertumbuhan ekonomi dunia, Indonesia berada di lingkarana 10 besar negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pertumbuhan ekonomi tersebut dikarenakan ada beberapa faktor. Yakni 1). Indonesia memiliki penduduk terbesar keempat di dunia, 2). Sumber daya alam yang masih melimpah, 3). Tenaga kerja indonesia yang melimbah bahkan TKI berada di mana2 dan memberikan devisa terhadap negara, 4). Investasi asing yang menjamur.
       Namun walaupun Indonesia termasuk kategori negara yang ekonominya tumbuh hal tersebut berbanding terbalik dengan realita yang ada di masyarakat. Dimana hingga saat ini masyarakat Indonesia cenderung masih konsumtif (pasif) . Konsumtif sendiri mempunyai pengertian seseorang yang hanya mampu diam atau menerima hasil dari produk orang lain untuk dikonsumsi. Contoh semisalkan sabun merx X. Produk yang sehari-hari kita gunakan adalah produk luar bukam asli Indonesia. Bisa anda bayangkan berapa ribu bahkan juta rakyat Indonesia yang memakai produk tersebut. Berapa uang yang kita berikan ke negara produsen (maju) . Itu baru satu produk, padahal masih banyak produk2 yang lainnya yang pastinya anda tau sendiri. Perilaku konsumtif tersebut disadari atau tidak telah menyebabkan masyarakat Indonesia tak mau berfikir maju. Inilah yang menjadi PR kita bersama dan perlu dekonrruksi (membongkar) kebiasaan lama tersebut. apalagi mengingat Prilaku konsumtif ini masih mengakar dan seolah-olah tidak mau bangkit dari tempat tidurnya.
Untuk itulah dalam kaca mata anaslisa saya masyarakat indonesia perlu berubah kebiasaan komsumtif ke produktif dengan cara yang 1). Memanage seminiminal mungkin kebutuhan rumah tangga seperlunya saja, 2). Utamakan produk Lokal, 3). Melakukan gerakan kreatif, 4). Melihat dulu merk barang yang kita beli, jika di kira produk lokal masih ada mari kita utamakan produk lokal.
Itulah beberapa pemikiran saya jika kita ingin bangsa ini keluar dari baris negara konsumtif dan menuju masyarakat yang produktif.
         

Beribadah dan Meminta #makna al-fatiha#

Sebagai seorang muslim kita semua tau bahwa kita di ciptakan oleh Allah S..W.T untuk menyembah kepadanya. Arti menyembah disni menurut kiyai yang saya peroleh sewaktu ngaji di pondok bukan dalam artian Allah itu butuh manusia, jika manusia tidak menyembah kepadanya maka Dzat ke-Maha-annya terkurangi. Pengertian menyemba (ibadah) disni adalah sebagai sebagai bentuk ujian Allah kepada Manusia, apakah ia sanggup menjalani perintahnya dan mengingat Rabnya. Ketika ia sudah diciptakan dan diberikan kepadanya lebel mahluk yang sempurna. Artinya jika seandainya manusia tidak menyembah Allah. Allah tetap langgeng, sang Kholiq dan tidak terkurangi sedikitpun sebagaimana yang telah saya jelaskan sebelumnya. 
Walaupun manusia berlebelkan mahluk yang sempurna karena memiliki 'akal' di dalam diri manusia juga ada "nafsu". Nafsu inilah yang seringkali membawa malapetaka bagi manusia karena nafsu banyak menyebabkan manusia menjadi rakus, tamak, keji, tak bersyukur, selalu kurang dan kurang. Untuk itu perlu benteng yang kuat agar nafsu tidak kita tidak salah jalan. Dan benteng itu kita dapatkan ditengah2 didalam ibadah sholat, puasa, zakat kita. Jadi logikanya semakin banyak kita melakukan ibadah maka semakin kecil celah nafsu jahat yang akan lahir. 
Di dalam Al-Qur'an surat al-fatiha ada ayat yang mengandung makna lugas dan tegas yang menjadi sandaran bahkan peringatan bagi kita semua yakni #iyyaka na'budu wa iyyaka nastainnu# yang artinya kepadamu aku menyembah dan kepadamu meninta. Dari surat tersebut sdh jelas mengandung pengertian jika kita ingin meminta segogyanya ibadah kita di laksanakan terlebih dahulu. Bukan sebaliknya yang justru hanya mengedepankan nafsu sesat kita. Gambaran sederhananya mana mungkin orang akan di berikan upah jika ia belum bekerja. Sekian trimks..

lihatlah Hitam Putihnya Baru kau Pilih *Pesta Demokrasi*

 Sebentar lagi di beberapa daerah di Indonesia akan menyelenggarakan perhelatan akbar. Perhelatan tersebut adalah *pesta demokrasi*. Pesta dimana diselenggrakan setiap periode peralihan kepemimpinan dalam rangka memilih pemimpin-pemimpin baru untuk Gubernur, Bupati atau wali kota. Pemilihan serentak tersebut akan di selenggrakan pada tanggal 15 februari akan datang. Sekali lagi rakyat di tuntut untuk cerdas memilih pemimpinnya. Salah memilih berakibat fatal bagi dirinya dan masyarakat secara umum. Pesta Demokrasi juga memberikan makna kepada masyarakat bahwa merelah yang memiliki kedaulatan tertinggi di Republik ini, karena seyogyanya pemimpin hanyalah pelayan untuk melayani rakyat menuju masyarakat yang adil makmur dan sentausa, sementara rakyat adalah bos. Oleh karena itu jika rakyat semata-mata hanya memilih melalui mata, telinga tanpa hati nurani yang bersih tentunya pemimpin yang terpilihpun akan demikian. Hanya melihat di saat rakyat menderita hanya menguping di saat jeritan kelaparan di mana- mana. Untuk itu ketika Rakyat memilih gunakanlah semua indera yang ada. Indera kita yang kelima bahkan yang keenam. Karena  nurani kita tidak pernah berbohong dan salah menentukan pilihan.
     Disamping itu adanya informasi yang terbuka lebar dan mudah juga dapat di manfaatkan untuk menggali potret perjalanan hidup (Track and record) calon pemimpin yang akan kita pilih. Karena dengan begitu hitam putih tokoh tersebut dapat kita ketahui, apakah ia termasuk golongan Penjahat atau sebaliknya. Rakyat harus melek dan sadar jangan mudah di bohongi kesekian kalinya, jangan mudah terbius oleh janji manis kampanye. Janji kampanye sekedar promosi diri untuk menarik masa dan akan habis masanya ketika sudah terpilih. Mari berbenah diri, bangun-bangun rakyat. Kalianlah yang menentukan 5 tahun kedepan nasib kalian sendiri. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat tidak akan pernah terwujud selama kalian masih menggunakan kelicikan, kepentingan, egoisme, apatisme, akal dan nurani tak sehat dalam menentukan Pemimpin.

Tuesday, 7 February 2017

Sekali lagi Tuhan Memberikan Contoh

Tepat tanggal 6 Februari kemaren, saya mendapatkan kabar dari teman saya melalui medsos WA yang isinya mengatakan bahwa sahabat seperjuangan saya yang bernama Samsul Arifin telah pulang ke Sisi Allah Subhannal Ta alla. Mendengar informasi tersebut sayapun kaget, dan sempat tidak percaya, sayapun mencoba mengecek kebenaran info tersebut ternyata info tersebut memang benar apa adanya, sahabat saya samsul Arifin telah meninggal.  saya tidak menyangka di Usia yang sebaya dengan saya. Beliau telah di panggil lebih dulu oleh Tuhan.
Samsul Arifin di mata saya dan teman2 semasa masih ngampus di IAIN Jember. Di kenal orang yang suka membuat jenaka-jenaka, menyenangkan, jail ke teman-temannya. Dan yang paling saya rindu kepadanya Senyum manisnya yang penuh keikhlasan. Kalau boleh saya katakan jarang orang yang seperti itu. Namun siapa yang mengira di balik semua senyumannya ternyata ia menderita penyakit (Tumor) penyakit yang sangat kronis. Yang menemani beliau sampai ajal menjemput. Kematian Samsul Arifin kembali mengingatkan saya kepada almarhum Senior saya Cak Lubabul Islam atau biasa di dapa Cak Nadib. Beliau sosok senior yang luar biasa bagi bagi daya dan teman2 di pergerakan. Ya tapi siapa yang bisa memperkirakan secara pasti mengenai kematian manusia, tak ada yang bisa secanggih apapun keilmuannya. Bahkan dunia medis saja hanya dapat mengira-ngira. Hanya sang Penciptalah yang paham dan menentukan berapa lama ia  hidup di dunia. Kehendaknyapun tanpa melalui kompromi dulu dengan kita. Namun terkadang saya bertanya-tanya mengapa orang-orang baik begitu cepat meninggalkan dunia ini ??. sampai saat ini saya belum menemukan jawaban, Yang jelas semua itu adalah rahasia Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa menunggu kapan kita akan menyusulnya. Disisi lain juga "kematian" yang banyak kita temukan adalah sekecil contoh Tuhan yang diperlihatkan secara nyata kepada manusia agar jangan lupa kepada sang pencipta dan selalu berbuat baik untuk sesama. Kematian samsul Arifin walaupun menjadi luka bagi diri saya namun disisi lain memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa kita hidup di dunia ini hanya sebentar. karena sejatinya kita berasal darinya dan akan kembali ke pangkuannya.